Perjalanan Dari Mandai Ke Mamuju: Berbincang dengan Penjual Jagung yang Tidak Mau Menjadi Golput

Oleh: A. Hafied A. Gany

Rosmah (22-an), penjual jagung-ketan rebus (Lapak No.14) di jalan raya Pare-Pare, Desa Siddo, Kabupaten Barru, termos panas tempat jagung rebusnya, bertatahkan poster pasangan peserta “Pilkada” Sulsel 2007

Foto: A. Hafied A. Gany

Kalau kita mengenal Golongan Putih (Golput) dalam sistem pemilihan, apakah Golongan yang bukan Golput bisa disebut sebagai Golongan Hitam? Lalu apa predikatnya untuk golongan yang terletak di antaranya? Bisakah disebut sebagai Golongan Abu-abu (Golabu)? Jujur saja saya sebagai orang awam dalam bidang yang satu ini belum mampu menjawabnya! Namun dalam perjalanan kali ini, saya secara tidak sengaja menemukan Golongan yang terletak di antara ke duanya (dalam konteks pemilihan – pilkada – secara demokratis).

———

Tepat pukul 19 waktu Indonesia Bagian Tengah Pesawat Sriwijaya Air SJ-590 yang kami tumpangi — meskipun terlambat sejam setengah dari jadwal semula — mendarat juga dengan sedikit oleng di Bandara Hasanuddin tanggal 28 Agustus 2007. Karena pesawat yang melayani penerbangan Makassar – Mamuju (Sulbar) — yang semula kami rencanakan – hanya beroperasi dengan kapal kecil bermuatan 24 orang, dan belakangan ini terkadang kurang menentu jam kedatangan maupun keberangkatannya, maka saya dan Drs Budianto (teman saya sekantor dari Jakarta) memutuskan untuk menempuh perjalanan Mandai-Mamuju malam itu lewat darat dengan mobil yang sudah disiapkan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Jeneberang Pompengan di Bandara Hasanuddin. Kami semua berempat di mobil, dipandu oleh Pak Akil dan Pengemudi Pak Azis, keduanya adalah petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai tersebut.

Sampai mendarat di Bandara Hasanuddin, pikiran saya masih terus dibayang-bayangi oleh bacaan menarik yang saya beli di Kios buku Bandara Soekarno-Hatta. Buku tersebut saya lalap habis, sejak dari ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta sampai sesaat sebelum pesawat mendarat. Bahkan hampir sejam saat setelah mobil yang membawa kami meluncur dengan mulus ke arah Pare-Pare, bayangan tersebut belum mau sirna dari pikiran saya.

Saya sangat larut dengan kehebatan luar biasa sosok Senator Barack Hussein Obama, seorang warga negara Amerika blasteran Kulit Hitam Kenya dan ibunya orang kulit putih Amerika, yang sedang mengincar tiket Partai Demokrat untuk pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 2008 mendatang. Hal yang semula membuat saya tertarik membacanya adalah bahwa Barry (nama sapaan Obama semasa kecilnya) pernah tinggal dan bersekolah tiga tahun di di SD Fransiskus Assisi Menteng Dalam Jakarta, dan setahun di SD Negeri Percobaan 04 Besuki, Menteng 1 Jakarta. Barry tinggal di Jakarta, sampai fasih berbahasa Indonesia dengan logat Menteng, diboyong ibunya Ann Dunham dari Hawaii mengikuti Bapak tirinya, Lulu Soetoro, seorang mantan letnan TNI yang belajar topografi dan kemudian bekerja di Union Oil Jakarta.

Obama, yang masa kecilnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak kampung Menteng Dalam lainnya, namun kini mampu meluluhkan hati sebagian besar konstituennya di Amerika yang mengantarkannya menjadi seorang senator kawakan dan kini resmi menjadi calon Presiden Amerika Serikat. Saya khususnya terkagum-kagum bagaimana Obama berkampanye merebut hati konstituennya dengan merangkak dari kalangan bawah dan terus menjangkau kalangan atas.

Belum putus terawangan saya mengagumi Obama, saya tersentak kaget tatkala Pak Akil, pemandu kami, menyapa saya mengajak mampir makan malam. Saya hanya mengangguk dikegelapan, karena memang sejak dari sore perut saya sudah keroncongan.

Beberapa saat setelah turun dari mobil, saya belum sadar posisi keberadaan kami pada saat itu dalam kegelapan malam. Yang jelas menarik perhatian saya bahwa di kiri kanan jalan, sekitar puluhan mobil kecil yang masih mulus-mulus diparkir sejajar di kiri kanan jalan dan diatur oleh belasan petugas pamongpraja dan polisi lalu lintas, dengan bunyi khas sempritan yang membuat suasana malam itu, meskipun hanya diterangi lampu mobil yang lalu lalang, semakin menjadi hiruk-pikuk,.

Hati saya sempat bertanya-tanya: “Ada apa gerangan kok suasana begitu hiruk-pikuk di depan rumah makan laksana menyambut pejabat tinggi, padahal saya lihat tidak banyak orang makan di rumah makan tersebut. Kami langsung masuk dan memilih tempat duduk yang strategis menghadap ke pintu masuk tanpa menghiraukan suasana hiruk-pikuk yang masih berlangsung di luar.

Beberapa saat setelah kami berempat duduk selesai Pak Akil memesankan kami makanan, perhatian saya tersita oleh kedatangan sebuah rombongan memasuki rumah makan — ditengah kebisingan petikan gitar dan lagu tak menentu liriknya oleh dua orang pengamen. Rombongan tersebut diiringi belasan orang yang berperawakan kekar, seorang diantaranya memakai baju kaos ketat dan kardigan warna gelap bergambar (desain ala anak muda jaman sekarang, meskipun saya taksir umurnya tidak kurang dari kepala lima) mengenakan topi yang bertulisan “Lemhanas R.I., ……. (tulisan awalnya tidak jelas terbaca), dan tulisan berikutnya terbaca …… “Pang-Mung-Jong”.

Otak saya berputar tujuh keliling melihat seorang berperawakan sedang mengenakan batik lengan panjang bermotif lembut yang menjadi pusat perhatian ditengah kerumunan yang bergerak pelan memasuki rumah makan yang berkapasitas sekitar 45 tempat duduk itu. Wajah orang tersebut rasanya sangat populer, tapi siapa dan di mana sering saya lihat orang ini?

Ketika terpikir menyalahkan diri saya yang sudah mulai pelupa, saya tertolong tatkala pandangan mata saya tertuju pada beberapa poster calon peserta pilkada Provinsi Sulsel yang menempel di dinding rumah makan. Saya serta merta menempelkan telapak tangan di dahi: “Masya Allah, gumamku, rupanya orang tersebut adalah SS-1 (Sulsel Satu) yang kebetulan masih calon peserta “pilkada” Sulsel yang wajahnya terpampang ramai di Poster besar-besar di seantero Sulawesi Selatan. Pantas saja orang-orang berebut menyalami beliau dan berfoto bersama — yang semuanya dilayani beliau dengan ramah, simpatik, dan bersahabat. Tak lama berselang, menyusul rombongan ibu-ibu, salah satu di antaranya berperawakan semampai, memakai busana yang serba warna “pink”, yang dengan mudah saya tebak bahwa itu adalah Ibu SS-1 karena kerumunan mengelu-elukannya tidak berbeda dengan Bapaknya. Hal itu dibenarkan oleh Pak Akil yang duduk di samping saya.

Saya sekali lagi menjadi panasaran tatkala melihat Ibu pemilik warung yang raut mukanya saya kenal, mendadak sibuk kedatangan rombongan orang nomor satu Sulsel bersama rombongan ibu-ibunya. Rupanya saat melihat ibu pemilik warung tersebut, baru saya menyadari bahwa saat itu saya sedang berada di rumah makan “Tujuh-Tujuh” Pangkajene – yang empat tahun berselang saya pernah singgahi bersama puluhanan orang rombongan “Rewe’ Sipulung 2003″ dalam perjalanan mudik bersama dari Bandung ke Soppeng.

Kami berempat terpaksa mengalah makan sop saudara sampai habis duluan, baru menikmati bandang bakarnya (manguleng – Bugis), karena pelayan rumah makan tersebut mendadak kebingungan mendahulukan meladeni rombongan orang banyak, pada hal kami sudah memesan lebih duluan.

Hati saya sebenarnya ingin protes (atas pelayanan yang tiba-tiba kami rasakan menjadi “pilih kasih” tersebut, tapi saya sadar juga pernah mengalami empat tahun sebelumnya di rumah makan tersebut, dimana kedatangan rombongan kami “Rewe Sipulung 2003″ tujuh puluhan orang secara mendadak, sempat juga menyita layanan atas pelanggan lainnya. Apalagi pikir saya, rombongan yang menyita sebagian layanan untuk kami adalah SS-1, kami lantas menjadi ikhlas menerima keadaan tersebut.

Selesai santap malam, kami berempat beranjak keluar, sengaja saya mencari perhatian ketika melewati tempak duduknya sambil sedikit mengangguk pelan ketika pandangan kami bertemu, yang dibalas dengan ramah, bahkan terkesan sangat ramah sehingga sempat menjadi perhatian belasan orang yang duduk semeja dengan beliau, melirik kepada saya dengan gerak penghormatan yang sama.

Rumah Makan Tujuh-Tujuh, Pangkajene, tanggal 28 Agustus 2007 (malam) di luar nampak sepi-sepi saja, padahal di dalamnya sedang kedatangan rombongan Bapak-Ibu SS-1 (orang nomor satu di Sulawesi Selatan), yang lagi asik bersantap malam.

Foto: A. Hafied A. Gany

Saya sambil berlalu, membatin sendiri merasakan suatu suasana keramah-tamahan ekstra yang sangat sulit saya temukan (sebagai orang yang beliau tidak kenal sama sekali) di tengah-tengah kesibukan pejabat tatkala “pilkada” telah berlalu. Hal ini diperkuat oleh selorohan serombongan orang yang sedang saya temukan makan siang di salah satu rumah makan pinggir pantai di Kawasan Majene’ dalam perjalanan kami keesokan harinya menuju Mamuju.

Mungkin mereka hanya bergurau, tapi pikiran naif saya cukup tersentuh ketika menguping salah seorang di antara mereka berseloroh mengatakan bahwa saat ini (saat sedang demam “pilkada”) jauh lebih mudah menyapa dan menemui pejabat (peserta pilkada) ketimbang sesudah beliau berhasil terpilih, katanya. Kalu tidak percaya, “coba saja Sang Pejabat tersebut diundang sunatan di RT”, lanjutnya, pasti mereka datang – yang disambut dengan gelak tawa teman-temannya semeja.

Beberapa saat kemudian saya sambil terkantuk-kantuk melanjutkan perjalanan ke arah Pare-Pare, pikiran saja kembali lagi menerawang kepada “Senator Barack Hussain Obama” dari buku yang saya baca sepanjang perjalanan dari Jakarta siangnya.

Saya melihat dengan kasat mata adanya kesamaan “perilaku” antara Barack Obama saat menghadapi konstituennya sehari-hari, dengan kesan yang saya peroleh dari SS-1 di Warung Pangkep barusan. Saya tidak mengetahui perbedaaanya, namun secara umum saya baca bahwa perilalku Obama, tetap konsisten mengahadapi semua orang yang ditemuinya sehari-hari baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan pemilihan secara demokratis, semoga kita-pun demikian.

Sejujurnya, saya mengakui bahwa sebagai anggora “Korpri” di era Orde Baru, saya sering disindir tajam oleh masyarakat di “Daerah Binaan” pada saat “temu kader”. Mereka dengan spontan mengatakan bahwa: “Biasanya Bapak-Bapak Fungsionaris Golongan, kalau menjelang “Pesta Demokrasi”, pada rajin mengunjungi kita dengan janji-janji muluknya. Namun, seusai pesta demokrasi berlalu, kami akan sangat susah melihat batang hidung mereka apalagi kalau mau menagih janji. Ini pulalah yang membedakan antara prilaku kebanyakan politisi dibandingkan dengan senator sekaliber Barack Obama.

———

Saya sempat tertidur pulas hampir sejam dalam perjalanan berikutnya menuju ke Pare- Pare dan baru sempat terbangun dengan sedikit kaget ketika Pak Akil pelan-pelan menyapa saya mengajak mampir menikmati jagung rebus panas-panas di Desa Siddo, Kawasan Kabupaten Barru. Tanpa menunggu jawaban saya lagi, Pak Azis, pengemudi mobil yang kami tumpangi langsung berhenti dipinggir jalan di depan lapak penjual jagung rebus No. 14, dari 20-an lapak yang berderet memanjang di sana.

Sambil terkantuk-kantuk, saya turun dari mobil, langsung duduk meluruskan kaki (mappasilojo, Bugis) di atas perlak plastik kembang-kembang yang disiapkan untuk duduk lesehan menikmati jagung rebus sambil melepaskan lelah menjelang larut malam.

Sambil mempersilahkan duduk, Ibu Asmah (35), penjual jagung di lapak itu bersama adiknya Rosmah (22) langsung menghidangkan garam bercampur gerusan cabe rawit di piring-piring kecil, dengan seiris jeruk nipis di masing-masing piring kecil. Teman Saya Pak Budianto, yang keturunan Jawa-Baturaja (Sumsel), memandang saya dengan keheranan. Saya bisa menebak pikirannya sebagai orang yang baru pertama kali mampir ke tempat semacam tersebut. “Untuk apa garam cabe (pejje-ladang, Bugis) disuguhkan di lapak terbuka di bawah terpaan angin malam beraroma pinggir laut yang cukup menusuk tulang.

Baru sesaat kemudian, kedua penjual tersebut menyodorkan empat piring jagung rebus dihadapan kami, yang mengebul panas-panas baru dikeluarkan dari termos. “Silahkan makan Pak!” sapanya ramah, sambil menjelaskan: “Yang ini jagung manis, dan yang ini jagung “ketan”, sambil memindahkan telunjuknya dari piring yang satu ke piring lainnya.

Saya langsung saja menyambar jagung ketan diikuti Pak Budianto, sambil bertanya: “Apa sih bedanya jagung ketan dan jagung manis? Setelah mendengarkan penjelasan saya, beliau mengakui terus terang bahwa baru kali ini sumur hidupnya memakan jagung ketan, dan ternyata mempunyai cita rasa yang cukup mengundang.

Baru akan melahap tongkol jagung ke tiga, mata saya curiga memandang gambar-gambar yang melekat di termos yang tersusun di meja depan. Ternyata gambar tersebut adalah poster ukuran kecil dari salah satu pasangan peserta “pilkada”.

Merasa aneh dengan gambar yang tertempel di termos jagung tersebut, saya spontan berseloroh kepada Rosmah: “Rupanya jualan jagung yang saya makan ini mendapatkan modal dari peserta pilkada yang di gambar itu yah? Kataku sambil menunjuk ke gambar di termos tersebut. “Ah, Bapak ini ada-ada saja”, jawabnya tersipu-sipu malu, menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Ceritanya begini, Pak: “Kebetulan waktu itu ada serombongan anak muda mampir makan jagung di sini dan minta izin untuk menempelkan gambar itu di termos jagung dan di dinding, serta di papan nomor lapak”, sambil menunjuk ke gambar yang dimaksud. Merasa tidak dilarang karena kami diam, dia langsung saja menempel, apalagi gambar tersebut tidak merusak pandangan, katanya meneruskan penjelasan.

Ketika saya tanya apa Rosnah, yang jebolan SLTP tersebut, mengetahui apa maksud gambar-gambar tempelan tersebut? “Tadinya sih, hanya tahu samar-samar untuk promosi “pilkada”, tapi setelah beberapa orang yang mampir dan menjelaskan kepada saya karena saya disangka pendukung calon yang ada di gambar tersebut akhirnya saya tahu bahwa itu gambar salah satu dari tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan dipilih masyarakat pada “pilkada” tanggal 05 Nopember 2007 mendatang.

Ketika saya tanya kemudian, apa Rosnah dan kakanya memang sudah memutuskan untuk memilih pasangan calon yang tertempel di termos tersebut, dia dengan sedikit menaik nada suaranya menjawab: “Saya ini bersaudara apalah, Pak, orang kecil yang tidak mengerti dan tidak punya kepentingan apa-apa”. Bagi kami lanjutnya, siapapun yang menang dan memerintah, tidak ada masalah, yang penting dagangan jagung kami ini laris untuk menghidupi kami sekeluarga, toh kami tidak ada untung apa-apa kalau mendukung atau tidak mendukung.

Mendengar jawaban apa adanya tersebut saya semakin tertarik untuk mengetahui profil dan opini mereka sebagi sosok warga negara yng mempunyai hak pilih dan dipilih. Dia rupanya tidak keberatan kalau ada calon peserta “pilkada” lain menempelkan gambar serupa di termosnya, bahkan di dinding lapak terbuka – yang disewanya Rp 900.000 per tahun dari seorang TKI yang saat ini bekerja di Malaysia. Silahkan saja asal tidak mengotori milik orang yang saya sewa ini, dan tidak mengganggu usaha saya. Untuk berjualan pada malam hari, mereka harus menyewa penerangan listrik Rp 3.000 setiap malam. Padahal mereka berdua, terkadang bergantian, hanya mampu menjual seratus limapuluhan tongkol jagung setiap hari, dari pukul 09 pagi sampai pukul 01 dini hari. Itupun tergantung ketersediaan bahan baku jagung muda yang dipasok oleh “grosir” setiap hari. Belum terhitung terpaan cuaca panas-dingin, polusi asap kendaraan bermotor lalu lalang bercampur debu yang terus dihirupnya selama belasan jam setiap harinya.

Mengetahui besaran total penghasilan bersih mereka berdua yang hanya berkisar antara Rp. 25.000 s/d Rp. 30.0000 per hari, atau nya sekitar Rp. 15.000 per oran per hari untuk 13 jam kerja, saya benar-benar menjadi terenyuh dan sedikit berpikir dalam hati: “Betapa masih banyaknya Asmah – Rosnah lain yang berpenghasilan “liliput” tersebar di luar sana, yang entah paham entah tidak menggunakan hak suaranya sehingga kebanyakan hanya menjatuhkan pilihan, secara random dan tanpa pamrih, kepada calon pemimpin, yang belum tentu mewakili tuntutan pelayanan masyarakat yang didambakannya.

Ketika saya tanya, apakah mereka sudah bulat menetapkan calon pilihannya dan mau ikut “pilkada”, dia dengan sedikit menunduk, beberapa saat hening, kemudian menjawab: “Kalau ikut pilkada dan menjatuhkan pilihan, itu pasti Pak, itu kewajiban kami “mendukung” program pemerintah. Tapi untuk menetapkan siapa yang kami pilih, itu terpaksa kami lakukan dengan untung-untungan saja. Kami benar-benar tidak tahu tentang calon, mudah-mudahan Tuhan menuntun tangan kami untuk menjatuhkan pilihan yang terbaik”.

Salah satu poster calon peserta pilkada yang meminta bantuan untuk memenangkan pasangannya.
Foto: A. Hafied A. Gany

Bagaimana seandainya ada yang datang menawarkan bantuan mengganti ongkos transport dan kompensasi kerugian akibat meninggalkan dagangan untuk mengikuti “pilkada”, tanya saya sedikit usil. Mereka terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan nada lirih, yang menyentuh sanubari saya sangat dalam: “Pak, kami ini orang kecil yang tidak mempunyai peranan apa-apa dalam masyarakat, kami sangat takut berbuat salah Pak, nanti kualat (mabusung, Bugis). Jangankan kami di bayar, bahkan kami lihat banyak himbauan peserta pilkada yang terpampang di mana-mana yang justru meminta bantuan. Itu contohnya sampil menunjuk poster bertulisan “Bantuka Cappo” (Bantu kami saudaraku), dan banyak lagi versinya yang lain.

Lalu apakah anda mau menjadi Golput? Tanya saya melanjutkan bincang-bincang dengan mereka. “Wah, itu tidak bertanggungjawab sebagain warga masyarakat yang baik, Pak. Kalau memilih tanpa mengetahui siapa yang dipilih, apakah itu berarti Anda juga tidak bertanggungjawab sebagai warga yang baik? “Kalau itu sih, tidak sama niatnya” katanya menjawab acuh tak acuh. Yang penting, kami membantu program pemerintah, walaupun dengan memilih secara untung-untungan. Mudah mudahan itu petunjuk Tuhan kepada kami yang tidak mengerti apa-apa ini daripada kami tidak memilih sama sekali, akan lebih merepotkan pemerintah.

Saya tiba-tiba menjadi terpukau laksana mendengarkan ceramah dari narasumber yang pakar, karena semua logikanya masuk akal. Saya malah menjadi merasa bersalah karena sering memfonis masyarakat bawah sebagai golongan “miskin”, “bandel” dan “bodoh”. kali ini saya benar-benar mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Saya menjadi bertanya-tanya dalam hati: “Sudakah hal ini dipertimbangkan oleh “penentu kebijakan?” “Entalah, saya sendiri tidak mampu mencernanya”, jawab hati kecil saya dari sisi lain, yang seolah-olah dua pihak terlibat dialog di kebekuan mulut saya!

———

Hampir tengah malam ketika kami sampai di Hotel Pare-Wisata tempat kami bermalam di Pare-Pare. Kami tertidur pulas sampai dibangunkan oleh petugas hotel keesokan subuhnya pukul lima pagi untuk sarapan dan bersiap-siap dengan perjalanan 6-7 jam yang menunggu berikutnya menuju Mamuju, Sulbar – tujuan kunjungan kerja kami kali ini.

Gambaran pelaku ekonomi sektor non-formal, di suatu pasar di perbatasan Kabupaten Rappang dan Polman; sosok masyarakat – Asmah-Rosmah lain – yang bukan “Golput”

Foto: A. Hafied A. Gany

———-

Dari Pare-pare sampai ke perbatasan Provinsi Sulawesi Barat, di luar dugaan kami, ternyata masih disuguhkan dengan hal-hal bernuansa “pilkada”. Kehirukpikukan “perang poster” di sepanjang perjalanan membuat mata saya menjadi melek, apalagi dengan suguhan kesemarakan “musim perkawinan”, di mana kami melewati sekitar 20 perhelatan perkawinan di sepanjang jalan sampai perbatasan Prov Sulbar. Padahal hari itu hari Rabu yang bukan hari libur.

Menyadari keheranan saya, Pak Azis, sopir kami menjelaskan bahwa saat ini banyak orang mengadakan helatan perkawinan karena mengejar mendekatnya bulan Ramadhan. Apalagi tanggal 5 November 2007, tiga minggu sesudah lebaran, masyarakat Sulsel menghadapi Pesta demokrasi.

Saya hanya terdiam mengiyakan analisis Pak Azis yang sangat masuk akal. Namun pertanyaan dalam benak saya yang belum terjawab adalah: “Apa ada hubungan antara poster peserta pilkada dengan perhelatan perkawinan yang juga memarak? Soalnya, hampir setiap tenda perhelatan yang didekor dengan warna-warna mencolok, tidak jauh dari sana selalu terpampang salah satu atau lebih poster peserta pilkada yang juga terlihat secara mencolok. Mungkin itu hal yang kebetulan, batinku memaksa dialog dalam sanubariku berakhir.

———

Mengarungi dua ratusan kilo meter sisa perjalanan kami menuju ke Mamuju, kami harus sedikit bersabar melewati jalanan sempit yang berkelok-kelok, dengan jembatan sempit yang tidak memungkinkan dua kendaraan roda empat berpapasan. Kesabaran kami dibayar dengan kenikmatan menyaksikan keindahan pemandangan alam pantai barat Sulawesi yang sulit dicari padanan dan keasriannya dengan kawasan wisata pantai di manca negara sekali-pun.

Menghadapi kenyataan bahwa Provinsi Sulbar sebagai Provinsi yang baru berumur hampir tiga tahun (5 Oktober 2004), setidaknya “provinsi balita” ini lebih tenang dibandingkan kakak kandungnya (Sulsel), karena baru saja tahun yang lalu berhasil melaksanakan pilkada dan memilih putra terbaiknya untuk memimpin setidaknya empat tahun mendatang. Dwi Tunggal Pemimpin terpilih ini, tinggallah menata sumber daya alamnya yang kaya raya dan masih perawan untuk menjamin kesejahteraan warganya.

Memang belum sehirup pikuk pilkada di Sulawesi Selatan, namun masih ada kejadian riak-riak kecil pasca pilkada, antara lain percobaan pengeboman (yang tidak berhasil) jembatan di Campalagian, yang ditengarai akibat masih adanya pihak-pihak tertentu yang beluam puas dengan hasil pilkada yang sudah berhasil dilaksanakan di Provinsi Balita ini.

———

Di balik berbagai temuan dalam perjalanan saya kali ini, tersisa suatu pertanyaan umum: “Mampukah pilkada dengan segala ketentuannya yang ada menemukan figur pemimpin yang dibutuhkan masyarakat dalam Era Otonomi di seantero Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini?”

Pertanyaan ini terlalu sulit dijawab sendirian oleh seorang tukang insinyur seperti saya, namun menginjakkan kaki di Kawasan Mamuju, yang berjarak 450 km dari Makassar, mendadak sebuah angan-angan “gila” timbul dalam benak saya: “Seandainya saja Calon-calon Pemimpin yang akan dipilih sudah sekaliber Barack Obama, dan pemilih (yang saat ini masih diwakili Asmah-Rosmah, si Penjual Jagung rebus), sudah memiliki kesadaran demokrasi seperti negeri Paman Sam, pastilah “Pemilu” atau “Pilkada” akan menjadi wahana Demokrasi yang sangat efektif untuk menemukan pemimpin sesuai tuntutan masyarakat dan Bangsa Indonesia. Memang suatu pemikiran yang “eksentrik” saat ini, tapi pembelajaran harus di mulai dari sekarang juga, yang penting jangan sampai kebablasan.

Jakarta, 1 September 2007

8

Powered by ScribeFire.

7 Responses to “Perjalanan Dari Mandai Ke Mamuju: Berbincang dengan Penjual Jagung yang Tidak Mau Menjadi Golput”

  1. gany Says:

    Naskah ini adalah draft yang diajukan kepada Editor Panyingkul untuk dimuat pada situs tersebut dengan editing seperlunya. H@Gany

  2. daeng rusle Says:

    Iri rasanya dgn pak Hafied yang bisa menyusuri pantai barat sulsel/sulbar dan berjumpa dengan banyak orang2 yang diceritakan di tulisan diatas.

    Saya sendiri berharap bahwa semua kepura2an para kontestan pilkada menjelang hari besar itu adalah prasyangka belaka. Dan tidak betul. Mudah2an. Siapapun orangnya yg terpilih, mudah2an punya hati yg malempu sebagaimana Rosmah dan keluarganya itu, supaya negara ini bisa better lah.

    Capek rasanya menyaksikan halaman hukum di majalah/koran nasional isinya persidangan koruptor bekas penjahat, eh bekas pejabat…he2. Kuru sumange pak hafied atas share nya.

  3. sobirin Says:

    Pak Hafied,
    Bagus sekali reportase perjalanan ini. Ternyata pembelajaran “politik” bagi kalangan masyarakat kelas Rosmah masih sekedar tontonan “sandiwara srimulat”. Sampai saat ini posisi rakyat kecil masih difungsikan sebagai “kayu bakar” untuk memenangkan pesta api unggun hura-hura pilkada.
    Bagus sekali blog-nya
    Salam/ sob

  4. ARIZ Says:

    Semua OK !. cuman aku pengen tau komentar, saran ataupun info bilamana aku buka usaha bikin warung/resto di Mamuju Sulawesi. Adakah yg bersedia kasih email ke aku. Thanks

  5. ARIZ Says:

    Oh ya emailku : wafiquddin@gmail.com atau arizyoga@yahoo.com

  6. marumpa Says:

    Salam kenal pak. Mampir ya.

  7. togarsilaban Says:

    Browsing di facebook membawa saya ke sini Pak Gany.
    Semoga-sehat-sehat saja ya,
    Salam “mantan Unnivillage”.

Leave a Reply