Terdampar di Jembatan Kereta Api Maut (Death Railway Bridge), Justru Menemukan Obsesi Makassar di Masa Remaja

 

Oleh: A. Hafied A. Gany

Jembatan Maut Sungai Kwai (The Bridge on the River Kwai) Provinsi Kanchanaburi, Thailand – saksi bisu korban puluhan ribu jiwa tawanan perang Tentara Sekutu dan pekerja “romusha” dalam Perang Dunia ke II – Kini mampu menarik puluhan ribu wisatawan setiap tahun. (Foto: A. Hafied A. Gany).

Di sekitar tahun 1960-an semasa saya menuntut ilmu di STM Negeri Makassar, hampir setiap malam sepulang mengikuti kursus Bahasa Inggeris di Jalan La Maddukkelleng (Sesuai dengan salah satu artikel kenangan Kota Makassar yang dimuat di Panyingkul beberapa waktu yang lalu) saya berkali-kali menikmati alunan sayup-sayup sebuah melodi, dengan nada siulan berkelompok, yang dikumandangkan sebagai “musik pembuka (call-sign)” dari suatu acara menjelang tengah malam di RRI Makassar – saya tidak ingat lagi tepatnya nama acara tersebut, kalau tidak salah semacam program pilihan pendengar yang sangat digemari muda-mudi pada saat itu.

Begitu seringnya mendengarkan melodi “siulan” tersebut sembari mengayuh pedal sepeda dengan santai melintasi jalan-jalan sepi dari Jalan Sultan Hasanuddin, melintasi permukiman di seputar Jalan Diponegoro, Jalan Sangir, Jalan Irian, Jalan Kalimantan sampai ke tempat pemondokan saya di Jalan Parang Layang (sekarang Jalan Buru), pada akhirnya melodi tersebut menjadi sangat akrab di telinga saya, bahkan saya rasakan menjadi nostalgia yang menyatu dengan naluri musik adisadar saya secara awam.

Sampai sekarang, jika sempat mendengar alunan melodi tersebut, meskipun puluhan tahun telah berlalu, saya pasti akan terperanjat memasang telinga-hati sekedar untuk merasakan nostalgia sejuknya udara malam tatkala penduduk kota Makassar tahun 60-an menikmati istirahat malam sebagai pengatar ke peraduan.
Cukup lama saya menyatu dengan nada-nada siulan yang satu ini, tanpa pernah mengetahui nama, asal usul maupun identitasnya, sehingga kalau ada yang menanyakan, pasti saya akan bersiul untuk bisa langsung menjelaskannya. Beberapa bulan kemudian, secara kebetulan di suatu kesempatan pelajaran Bahasa Inggeris di tempat kursus saya, seorang guru senior menggunakan kesempatan di kelas untuk mengulas sebuah film yang konon sangat tersohor di akhir tahun 50-an dengan judul:”The Bridge on the River Kwai”.

Terus terang saja, saya saat itu sama sekali tidak tertarik dengan ulasan film tersebut, sampai saat diperdengarkan musik latarnya yang spontan membuat mata saya terbelalak. Rupanya musik latar belakang film tersebut tidak lain dari melodi yang sudah lama menyatu dengan adi-sadar saya. Dari saat itu juga, saya lalu spontan mencurahkan perhatian kepada ulasan guru bahasa Inggeris saya tersebut secara intens dan langsung mengasosiakan nama musiknya dengan nama film yang diulas guru saya, karena ketika saya tanyakan, guru saya juga ternyata tidak mengetahui banyak tentang musik latar belakang film tersebut.

Beliau hanya menyampaikan bahwa film tersebut dibuat berdasarkan kisa nyata Perang Dunia ke II tentang pembuatan jembatan di perbatasan Birma dan Muang Thai di atas Sungai Kwai yang memakan korban puluhan ribu tahanan perang Tentara Sekutu yang dipekerjakan secara paksa oleh Bala Tentara Jepang. Justru informasi yang tidak tuntas tersebut menjadikan saya sangat terobsesi untuk suatu waktu kelak dapat mengunjungi jembatan di atas Sungai Kwai tersebut (sebut saja obsesi Makassar di masa remaja).

Beberapa puluh tahun kemudian, obsesi mengunjungi jembatan di atas Sungai Kwai tersebut sudah terlupakan pada alam sadar saya, namun alunan melodi – yang saya sebut “The Bridge on the River Kwai” tersebut masih segar terekam di ingatan saya dengan segala kesan nostalgianya sewaktu masih di Makassar. Malahan sempat saya perlakukan sebagai siulan wajib setiap pagi meramaikan kamar mandi. Belakangan saya sempat bersimpati pada sebuah iklan obat penurun panas di TV yang menggunakan melodi tersebut sebagai musik latar belakang – yang diperankan oleh bintang sinetron ternama sambil menggunakan gerakan-gerakan heroik karate, entah mereka membayar royalti entah tidak, atas penggunaan melodi tersebut dalam iklan.

Di suatu hari Sabtu minggu pertama bulan Juli 2007, tepatnya tanggal 8 Juli 2007 tatkala kami selesai mengikuti simposium “International Network on Water and Ecosystem in Paddy Field (INWEPF) di Bangkok, bersama segenap peserta simposium dari berbagai negara, kami berangkat pagi-pagi sekali dari Hotel Emerald dengan bus jumbo meluncur ke suatu obyek studi banding yang kami hanya diberitahu namanya yakni Daerah Irigasi Mae Klong, sekitar 129 km ke sebelah barat laut Kota Bangkok.

Kami memanfaatkan waktu setengah hari mengadakan observasi terhadap aktivitas proyek Irigasi Mae Klong yang sangat relevan dengan materi bahasan yang didiskusikan di sepanjang penyelenggaraan simposium. Obyek-obyek yang kami kunjungi, sangat sarat dengan pengalaman-pengalaman baru dalam bidang keahlian yang saya tekuni bertahun-tahun. Begitu menariknya obyek yang diobservasi, tidak terasa waktu lima jam telah kami lewati. Itupun setelah panitia mengingatkan berkali-kali bahwa kita sudah ditunggu untuk bersantap siang di suatu restoran terapung di Sungai Mae Klong, yang letaknya sekitar belasan kilo meter dari lokasi kunjungan lapangan.

———

Beberapa saat kemudian, kami semua di restoran terapung Sungai Mae Klong, mendapati diri serasa ingin melahap habis semua makanan yang disajikan. Mungkin karena memang sangat lapar dan dahaga setelah beberapa jam diterpa sinar matahari tropis Bulan Juli, atau mungkin juga karena sewaktu kami sampai, jam sudah menunjukkan lewat pukul 13 siang pada saat mana seluruh tempat duduk di restoran tersebut sudah dipenuhi wisatawan yang mayoritas bule, kecuali tempat duduk rombongan kami. Saya sendiri meyakini bahwa selera makan kami dirangsang oleh anekaragam panganan Thailand yang sengaja dirancang dengan “rekayasa boga” untuk menarik “wisatawan kuliner” menikmati keindahan dan kelezatan makanan dengan kawalan berbagai macam buah-buahan tropis, keunggulan Negeri Gajah Putih.

Tidak terasa, beberapa belas jenis hidangan datang dan ludes, sehingga hampir-hampir tidak tersisa lagi ruangan dalam perut kami kecuali untuk bernafas terbata-bata. Begitu lahapnya kami bersantap siang, sehingga obyek hiburan dan wisata yang sengaja disuguhkan kepada rombongan kami menjadi tidak menarik lagi.

———

Saya sambil berbasa-basi dengan tuan rumah, dengan ogah-ogahan mengambil beberapa foto jembatan KA rangka baja berwarna hitam lusuh, hanya beberapa belas meter di sebelah hilir restoran terapung sungai Mae Kalong. Itupun karena hati saya bertanya-tanya keheranan menyaksikan betapa banyaknya turis bule berseliweran sambil jalan kaki di atas dan di sekitar jembatan rangka baja yang kumuh tersebut. Sembari mengambil foto-foto jembatan, pikiran usil menghampiri benak saya membatin sambil menggumam ala Gus Dur: “Jembatan kumuh begitu saja, kok repot-repot dikunjungi ramai-ramai oleh turis bule” – sampai-sampai jalan kaki menyeberang segala. Padahal cuaca siang itu sangat tidak bersahabat dan cukup kuat untuk menyengat kulit kita. Saya sempat mendengar dari teman orang Thailand yang duduk di samping saya sewaktu suda naik di bus – tanpa saya tanya – bahwa jembatan itu bernama Jembatan Mae Klong yang mempunyai banyak catatan sejarah di baliknya.

Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, bus yang kami tumpangi sengaja diputar-putarkan berkeliling Kota Provinsi Kanchanaburi, khususnya melihat dari jauh pekuburan tentara Sekutu dan pekuburan korban Perang Dunia ke II lainnya yang membentang luas, tampak terpelihara dan tertata sangat bersih dan rapih. Kami sempat melihat sekilas bahwa pekuburan tersebut sangat ramai dikunjungi oleh turis-turis bule. Sekali lagi saya berpikir naif, bahwa kalau pemandangan seperti itu saja ingin dilihat, kenapa turis bule tidak ke Indonesia saja, kan lumayan untuk nambah-nambah devisa.

———

Hampir pukul 10 malam kami baru tiba kembali di Hotel Emerald. Saya hanya sempat cepat-cepat salat Maghrib yang digabung dengan Isya lalu merebahkan badan keatas tempat tidur tanpa sempat mandi atau mengganti pakaian lagi. Begitu pulasnya saya tertidur sampai-sampai saya baru terbangun keesokan paginya sekitar pukul 8:30 oleh dering telepon saudara angkat saya (Mr. Kiattisak Tong Prasert) yang mengabarkan bahwa dia sudah tiba di airport domestik Don Muang dari Chiang Mai dengan pesawat pagi, dan sekitar setengah jam lagi dia akan sampai di Hotel Emerald, sengaja menemui saya dari jauh (jaraknya sekitar Makassar-Manado). Saya terperanjat buru-buru bangun salat Subuh (kesiangan) mandi dan berkemas-kemas menyambut kedatangan Saudara Siam saya yang sudah lima tahun belakangan tidak pernah berjumpa.

Di sela-sela percakapan saya dengan Mr. Kiattisak yang sangat mengharukan, Mr. Vanchai Sinsawat, seorang pensiunan Departemen Irigasi Kerajaan Muang Thai, yang mengantar Mr. Kiattisak, sempat menanyakan kemana saja kami berkunjung kemarinnya. “Sayang sekali panitia tidak mengajak rombongan kamu meninjau jembatan Sungai Kwai yang sangat tersohor ke seluruh dunia itu – padahal letaknya tidak seberapa jauh dari Daerah Irigasi Mae Klong”: ujarnya ketika saya menjawab bahwa kami hanya putar-putar di sekitar kota Kanchanaburi, dan makan siang di Restoran terapung Sungai Mae Klong sambungku. Lah, itulah lokasi “The Bridge on the River Kwai” katanya sangat meyakinkan. Mr. Vancahai menjelaskan lebih lanjut bahwa memang jembatan itu terbentang di atas anak Sungai Mae Klong, tapi sejak tahun 1960 diubah namanya menjadi Jembatan Sungai Kwai.

Mr. Vanchai Sinsawat, pensiunan PNS Departemen Irigasi Kerajaan Muang Thai, yang memberitahukan kami bahwa “The Bridge on the River Kwai” itu – tidak lain dari Jembatan hitam, yang telah kami kunjungi sehari sebelumnya tanpa menyadarinya.
(Foto: A. Hafied A. Gany)

Mendengar penjelasan tersebut, saya tidak sadar sampai mengumpat-umpat panitia yang tidak tuntas memberikan penjelasan kepada kami, bahwa itu adalah jembatan Sungai Kwai yang justru sudah puluhan tahun saya mengetahui namanya sejak masa remaja di Makassar dulu. Saya hanya bisa tersenyum masam menyadari betapa seandainya penjelasan panitia selengkap penjelasan Mr. Vanchai, pastilah saya akan berlama-lama memuaskan kerinduan dan kegembiraan atas terwujudnya obsesi berkunjung ke Jembatan Sungai Kwai yang sudah sempat mengendap puluhan tahun dalam sanubari saya.

Sekiranya saya tidak terjadwal pulang ke Tanah Air keesokan subuhnya, pastilah saya meminta saudara angkat saya mengantar saya kembali ke Jembatan yang kemarinnya telah saya fonnis sebagai jembatan kumuh, tidak mempunyai estetika dan tidak layak dikunjungi turis manca negara. Pada saat itu pikiran saya hanya diliputi rasa penyesalan kenapa saya “terdampar”, dan baru sadar akan terwujudnya nostalia masa remaja saya justru setelah saya jauh meninggalkan lokasinya. Apa boleh buat, itu adalah kekeliruan yang sangat fatal, tapi siapa tau barangkali ada hikmah terkandung di baliknya, gumamku dalam hati menghibut kekecewaan.

———-

Istri saya sempat sangat kesal menyaksikan tingkah laku saya yang langsung masuk ke ruangan kerja menghidupkan internet begitu saya turun dari mobil memasuki rumah, setiba dari bandara. Saya baru menyadari kemudian telah berkali-kali menyakitkan hati isteri saja, yang sering merasa cemburu dengan komputer yang disebutnya sebagai “isteri-ke-dua” saya, segera setelah saya berhasil dengan sangat mudah memperoleh semua informasi yang mendetail di internet tentang “The Bridge on the River Kwai”.

Saya sempat berteriak secara refleks merasa “gondok” menyesali diri, namun bergembira telah memenuhi impian mengetahui dan berkunjung ke tempat yang telah hampir setengah abad mengendap dalam adisadar saya.
Betapa tidak, ternyata alunan melodi yang telah menghablur dalam sanubari saya ber-tahun-tahun, tidak lain dari musik latar dari salah satu film penyandang piala Academy Award yang berjudul “The Bridge on the River Kwai” yang dalam ceriteranya diskenariokan sebagai alunan suara siulan kelompok tentara sekutu yang menjadi tawanan perang Tentara Jepang. Konon tentara sekutu tersebut dipekerjakan di bawah intimidasi bayonet untuk membangun jembatan KA melintasi Sungai Kwai untuk mengangkut logistik Tentara Jepang sampai ke Birma (sekarang Myanmar).

Setelah puluhan tahun, kini saya baru mengetahui bahwa judul asli alunan melodi tersebut adalah “Colonel Bogey March” yang pertama kali diaransemen oleh Kenneth Alford, yang kemudian diaransemen ulang oleh seorang komponis Inggeris bernama Sir Malcolm Arnold, yang tanpa liriknya, selalu diasosiasikan oleh penggemar film dengan nama film penyandang Academy Award tersebut.

Berbagai perasaan silih berganti dalam benak saya tatkala mengetahui lebih lanjut bahwa film tersebut mengangkat ke layar lebar bagaimana mengerikannya perjoangan membuat jembatan yang dipaksakan oleh Tentara Jepang dalam Perang Dunia II dengan mempekerjakan 61.000 tawanan perang tentara sekutu, yang terdiri dari tentara Belanda, Inggeris, Australia, dan tentara Amerika. Tidak kurang 16.000 orang dari pekerja tawanan perang itu meninggal dan dikuburkan pada pekuburan orang asing di sekitar lokasi jembatan tersebut. Jumlah ini belum terhitung 200.000 pekerja “romusha” dari Asia, termasuk Indonesia – di mana sekitar 80.000 jiwa di antaranya menjadi korban dalam pembangunan “jembatan maut” tersebut. Puluhan ribu “romusha” selebihnya, tetap terpendam sebagai bagian dari misteri keganasan Perang Dunia ke II – tidak ada satu-pun orang yang tahu, dan tidak juga pernah ada yang diberitakan selamat kembali ke negeri asalnya. Ref: http://en.wilkipedia.org/wilki/The_Bridge_over_the_River_Kwai.

Konon, sebagian besar besi bangunan yang dipergunakan diangkut dari pelabuhan “Tandjoeng Prioek”, Jakarta, dan jembatan tersebut hanya sempat berfungsi selama 21 bulan, karena dihancurkan kemudian oleh Tentara Sekutu, dengan senjata tercanggih pada masa itu, dikenal dengan “Revolutionary Radio Controlled Azimuth Only (AZON) Bomb. Segera setelah Perang Dunia ke II usai, Pemerintah Kerajaan Muang Thai merekonstruksi kembali jembatan yang telah menelan puluhan ribu korban tersebut, sebagai monumen peringatan bagi generasi manusia ke depan, bagaimana mengerikannya perang bagi peradaban manusia. Juga sekaligus sebagai kebanggaan Kerajaan Muang Thai, negara satu-satunya di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah negara lain.

———-

Di balik renungan yang dibayang-bayangi berjuta rasa, saya setidaknya menemukan dua hikmah tersembunyi di balik penemuan saya yang terlambat saya sadari karena “terdampar” tersebut. Pertama bahwa seandainya saya tidak “terdampar” dan sudah mengetahui lebih dulu bahwa obyek wisata yang kami kunjungi tersebut adalah “The Bridge on the River Kwai” pastilah saya akan berlama-lama memuaskan nostalgia kerinduan, dan dapat dipastikan bahwa saya tidak akan pernah menyempatkan diri lagi mencari dan mengumpulkan informasi yang selengkapnya tentang obyek tersebut, karena sudah merasa puas. Hikmah kedua adalah bahwa sekali lagi terbukti dalam perjalanan hidup saya bahwa apapun keinginan yang pernah kita patri dalam hati kita yang terdalam (tepatnya doa yang terartikulasikan – atau “tersemaikan” – di sanubari dengan niat yang khusyuk), cepat atau lambat, pasti akan “tumbuh” dan berkembang dengan sendirinya (atas kehendak-NYA) yang “dipanen” sebagai “kenyataan”, sekalipun pikiran sadar kita telah melupakannya.

Dalam konteks tersebut di atas, keinginan saya untuk mengetahui dan mengunjungi “The Bridge on the River Kwai” (“obsesi” Makassar saya di masa remaja), yang saya justru tidak pernah mengetahui di mana rimbanya, malahan kini telah menjelma menjadi “kenyataan” pada kunjungan saya ke Muang Thai kali ini – padahal, obsesi tersebut sudah bertahun-tahun terlupakan alam sadar saya.

Apakah kejadian “terdampar” ini suatu kebetulan? Sama sekali tidak! Ini adalah suatu bukti nyata dari “Rahasia Kebesaran Tuhan” yang tidak dapat dicerna dengan pikiran sekuler saja, melainkan dengan Iman dan Taqwa. Pakar sosiologi beraliran sekuler menyebutnya dengan konsep “Self Fulfilling Phrophecy”, yang patut dipertanyakan: “Apakah mungkin suatu peristiwa terjadi dengan sendirinya?”. Pada hakikatnya, pasti ada Skhenario Akbar (Grand Schenario) di baliknya, yang tiada lain adalah Kehendak Al Khalik Sang Maha Pencipta, Pengasih dan Penyayang. “Maka Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?” (Q.S. Ar-Rakhman – Difirmankan berulang-ulang sampai 30 Ayat yang sama bunyinya).

Jakarta, 20 Juli 2007

1

Powered by ScribeFire.

Leave a Reply