
Citizen reporter, A. Hafied A. Gany, (urutan ketiga dari kiri), bersama Pendeta Budha Kiattisak Tong Prasert (ke dua dari kiri), diapit oleh Mr. Tang pekerja Vihara Budha (paling kiri) dan Mr. Vanchai Sinsawat, pensiunan Departemen Irigasi Kerajaan Muang Thai (paling kanan) bergambar di stasiun KA pembantu Sam Sen, Bangkok.
Dilema Pengelolaan Waktu: Saya menghadapi situasi yang dilematis ketika mengetahui bahwa “Panyingkul” akan mengadakan temu “Citizen Reporter (Cit-Rep)” di Makassar pada ulang tahunnya yang pertama di minggu pertama bulan Juli 2007. Kebetulan sudah setahun sebelumnya pada tanggal tersebut saya sudah diprogramkan untuk mengikuti simposium International Network on Water and Environment in Paddy Field (INWEPF), di Bangkok, di mana saya menjadi pengurus inti mewakili Indonesia. Ibarat buah simalakama, saya akan meninggalkan teman lama saya di Bangkok kalau saya mengikuti temu “cit-rep” Panyingkul di Makassar, namun akan kehilangan kesempatan bertemu kekasih baru dari dunia maya kalau saya memutuskan mengikuti pertemuan INWEPF Bangkok.
Untunglah koordinator editor Panyingkul cukup bijaksana mengadakan pengaturan sedemikian rupa menggeser acara puncak ke minggu ke dua, sehingga saya bisa mengikuti kedua acara tersebut, kendatipun tidak bisa sepenuhnya, dan juga terpaksa mengatur penerbangan langsung dari Bangkok ke Makassar dengan pesawat malam. Serasa mendapatkan berkah, saya sangat senang berkesempatan berbagi ceritera tentang Negeri saudara angkat saya “Mr Kiattisak” (yang dalam sejarah dikenal dengan Negeri Siam) yang ternyata saya dapati semakin jauh melejit meninggalkan Indonesia setelah lima tahun terakhir saya tidak kunjungi.
———
Terpesona dengan Kemajuan Pembangunan: Sejak tahun 1974, belasan kali saya menginjakkan kaki di Muang Thai yang banyak dikenak dengan Negeri Gajah Putih atau Siam di masa lalu. Namun kunjungan saya pada awal Juli 2007 ini benar-benar semakin membuat saya penasaran betapa cepatnya negeri saudara Siam saya ini (Mr Kiattisak, seperti artikel saya yang pernah dimuat di Panyingkul beberapa waktu yang lalu). Ternyata kita bukan hanya tertinggal dengan teknologi pertanian yang serba berbangkok-bangkok, tapi juga dalam hampir semua bidang, sebut saja dalam pembangunan dan pengelolaan bidang infrastrukur publik, prasarana transportasi, serta prasarana keairan, wisata alam, wisata budaya, bahkan wisata kuliner, wisata rohani dan banyak lagi untuk disebut satu persatu.
Tepat sesuai jadwal, pukul 22 malam, kami boarding pada pesawat Garuda yang akan menerbangkan kami ke Bangkok pada dini hari itu. Namun, saya sempat kehilangan nyali karena baru saya selesai memasang sabuk pengaman, tiba-tiba mesin pesawat mati, ruangan dalam pesawat menjadi gelap gulita selama beberapa detik sebelum lampu darurat menyala, namun mesin pesawat masih belum hidup membuat suasana pesawat menjadi sunyi senyap, penumpang hanya terdengan ber bisik-bisik satu sama lain. Suasana seperti ini sempat terjadi sekitar tiga atau empat menit, tanpa ada keterangan dari awak pesawat.
Saya pada waktu itu mendadak menjadi trauma, karena sehari sebelumnya saya membaca di koran bahwa maskapai penerbangan yang berbendera Inonesia, untuk sementara ditolak terbang ke Eropah oleh Asosiasi Penerbangan Eropah. Meskipun diliputi rasa ketakutan, saya berusaha tenang — saya membayangkan bagaimana kalau seandainya hal ini tiba-tiba terjadi tatkala kita sudah mengudara, bisa-bisa pesawat jenis Air Bus tersebut terjun bebas, padahal kami masih harus menemupuh penerbangan tiga setengah jam lagi sampai ke Bangkok. Mulut saya baru berhenti komat-kamit membaca apa saja yang bisa teringat saat itu setelah roda pesawat menyentuh landasan di Bangkok pada pukul 01:30 dini hari.

Salah satu sudut bandara baru “Suvarnabhumi” yang bernuansa modern dengan segala fasilitasnya yang serba canggih, diresmikan pemakaiannya baru beberapa bulan berselang.
Dalam keadaan sempoyongan, karena semalaman tidak bisa tidur, saya melangkahkan kaki memsuki Bandara “Suvarnabhumi”, yang serba gemerlapan. Meskipun pelayanannya masih sedang dalam penataan, namun saya benar-benar terpukau bagaimana tingginya loncatan Negeri ini dalam penyiapan prasarana bandaranya. Saya seperti bermimpi membandingkan bandara lama Dong Muang yang belasan kali saya darati, kini diganti dengan Bandara “Suvarnabhumi” yang sepintas menurut hemat saya sudah setarap kalau tidak melebihi kemegahan fisiknya dibandingkan dengan Bandara Dubai, Singapura, Seoul, Hongkong, Kuala Lumpur, Beijing, bahkan Tokyo dan San Fransico sekalipun. Meskipun kehirukpikukannya belum setara dengan Singapura atau Hongkong, namun yang terkilas di benak saya saat itu adalah bagaimana kiat negara ini untuk keluar dari terpaan “krismon” hanya dalam waktu tiga tahun, padahal gejolak politik dalam negerinya cukup sarat dengan “pergelutan”, bahkan pengambilalihan kekuasaan secara paksa (coup de tat) segala.
———-
Sambil menikmati udara sore pada saat pulang dari acara simposium hari pertama, saya sengaja keluar jalan-jalan santai di sekitar hotel, yang pada kunjungan saya lima tahunan terakhir masih berwujud pemukiman kumuh, kini seperti tersulap menjadi perkantoran dan permukiman elit yang serba gemerlapan.
Beberapa saat saya berjalan santai di tengah keramaian lalu-lintas pulang kantor, mata saya menangkap signal berbentuk huruf “M” mirip-mirip simbol kereta bawah tanah di Eropah atau “MRT – Sub Way di Amerika”. Saya menjadi penasaran karena sepanjang pengetahuan saya, sejak belasan tahun yang lalu hingga kini, saya belum pernah mendengar bahwa Kota Bangkok, sudah mempunyai jaringan transportasi bawah tanah, “Sky Train” (kereta layang”, atau-pun “monorail” seperti yang sudah belasan tahun menjadi wacana alternatif bagi DKI Jakarta. Tanpa pikir panjang, saya langsung masuk ke halte bawah tanah untuk meyakinkan diri.

Salah satu sudut stasiun kereta bawah tanah (under ground) Huai Kwang (No.3), yang bernuansa modern, bersih dan tertata rapih – baru diresmikan pemakaiannya September 2007.
Saya langsung saja membeli tiket di mesin vendor dan bergegas menaiki kereta pertama yang datang tanpa mengetahui tujuan perjalanannya. Pokoknya tekad saya pada waktu itu, ingin sekali mencoba dulu, soal tujuan perjalanan yang menurut pengalaman saya sangat mudah asal kita mau membaca skhema jaringan yang terpampang di mana-mana dengan jelasnya.
Sebagai konsekuensi kecerobohan, saya sempat mengalami kesulitan pada waktu keluar pada pintu yang keliru. Begitu saya memasukkan token (coin) pada slot yang tersedia di pintu keluar, saya sempat kaget luar biasa, karena tiba-tiba alarm berbunyi, dan palang pintu keluar tidak mau terbuka. Di tengah kebingungan tidak bisa keluar atau berbalik, menjadi tontonan gratis dan umpatan orang banyak, seorang wanita muda berseragam dengan wajah simpatik mendekati saya mengatakan: “bahwa saya salah keluar melalui pintu yang lebih tinggi nilai bayarannya dibanding nilai nominal tiket yang saya miliki, sehingga saya harus membayar pinalti”. Selanjutnya dengan ramah mengantar saya menuju ke loket untuk membayar pinalti beberapa puluh Bath. “Anda dari Indonesia ya?” Sapanya dalam Bahasa Inggeris logat Thai. Bagaimana Anda tahu kalau saya orang Indonesia, jawab saya keheranan. Dia sambil tersenyum manis menunjuk badge nama di saku kiri saya yang saya lupa mencopotnya setelah keluar dari ruangan simposium sore itu. Saya spontan menjadi tersipu malu, namun merasa sejuk dengan empati petugas cantik tersebut. Namun yang membuat saya kapok adalah perasaan malu yang luar biasa setelah menjadi tontonan orang banyak, laksana menonton pencopet tertangkap basah.
Mata saya sulit diajak tidur sepanjang malamnya, di samping pengalaman ditonton orang banyak di underground, juga sebenarnya masih merenungkan pidato pembukaan Menteri Pertanian Kerajaan Muang Thai di pagi harinya yang terus mengiang di telinga saya. Dari pidato tersebut kami mengetahui bahwa rupanya denyut jantung pembangunan Thailand tidak pernah berhenti sejenak-pun, kendati lajunya sempat menjadi tersendat-sendat akibat krisis multi dimensional yang melanda negeri itu berkali-kali. Terungkap lebih lanjut dari pidato tersebut bahwa tanggungjawab pembangunan di segala bidang tidak hanya menjadi monopoli pemerintah kerajaan, namun juga menjadi tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat melalui pendekatan partisipatif (keikutsertaan). Tekad membangun benar-benar dimiliki secara militan oleh setiap warga negara tanpa kecuali.
———
Kemajuan Sampai di Pelosok Perdesaan: Di hari ke empat (terakhir), kami bersama peserta simposium lainnya mengikuti kunjungan lapangan untuk mengobservasi secara langsung hal-hal substantif yang menjadi topik bahasan di sepanjang penyelenggaraan simposium.
Segera setelah mengisi perut dengan sarapan yang serba benuansa Thai, kami berangkat dengan kendaraan bus “jumbo” menuju sasaran observasi di provinsi Kanchanaburi yang jaraknya 129 km dari ibu kota Bangkok, tidak seberapa jauh dari perbatasan Myanmar (Burma).
Sambil mendengarkan penjelasan dari kepala unit perencanaan, pembangunan dan pengelolaan, yang menerima kami di kantor Stasium Lima Irgasi Mae Klong, saya tidak henti-hentinya mencatat hal-hal baru yang saya dengar dari penjelasan yang disampaikan petugas tersebut.
Hal yang sangat mengagumkan saya dalam penjelasan tersebut bahwa kalau kunjungan saya beberapa kali di Muangthai dalam dekade yang lalu, lebih memfokuskan perhatian pada upaya “peningkatan produksi” pertanian, khususnya durian dan beberapa jenis hortikultura lainnya, maka untuk kali ini saya akhirnya mengkonsentrasikan diri pada teknologi irigasi berbasis pelestarian eko-sistem. Terus terang, hampir semua yang dibahas dalam simposium, masih merupakan wacana bagi pengembangan irigasi di Indonesia yang saat ini masih bertumpu pada “peningkatan produksi” dan masih sedikit menyentuh praktek-praktek pertanian beririgasi yang berbasis ramah lingkungan.
Saya sekali lagi merasa kecil nyalinya untuk berbicara pada setiap kesempatan, meskipun pada kesempatan sidang eksekutif, saya terpilih secara aklamasi untuk menjadi pemimpin sidang yang bertugas memandu peserta untuk menyimpulkan hasil simposium secara menyeluruh.
Pada tahap berikunya, kami diajak meninjau lapangan yang sekali lagi membuat saya sibuk mengambil foto-foto praktek-praktek pertanian modern belum umum dilakukan di Indonesia. Ini termasuk pengolahan tanah dengan sistem mekanisasi yang sudah menjadi praktek sehari-hari. Semua peralatan mekanisasi pertanian yang dipergunakan (juga melayani pengolahan lahan pertanian sempit sampai ke pelosok perdesaan), dikelola dan diurus secara kolektif. Di bidang satu ini, yang seharusnya menjadi keunggulan kempetitif maupun keunggulan komparatif Indonesia, kita juga harus jujur mengakui keunggulan negara sahabat kita ini.

Penggunaan peralatan salah satu jenis mekanisasi pertanian modern (combine harvester) untuk pemanenan padi (yang kini sudah umum dipakai petani sampai ke pelosok-pelosok perdesaan Muang Thai.
——–
Saudara Siam-ku Mr. Kiattisak Kini Menjadi Abdi Sang Budha: Mengetahui bahwa saya akan berkunjung ke Muangthai, sahabat dan sekaligus saudara angkat (Saudara Siam) saya, Mr. Kiattisak Tong Prasert, khusus menyisihkan waktunya, yang serba sibuk untuk menemui saya. (Seperti telah saya uraikan pada tulisan saya terdahulu di Panyingkul, Mr. Kiattisak – Insinyur Pengairan Senior jebolan universitas terkemuka di Thailand – yang dulu sepanjang kariernya menjadi abdi negara di bidang irigasi dan drainase seperti saya, setelah pensiun tiga tahun yang lalu secara sukarela memilih menjadi abdi Sang Budha, dan kini hidup di Vihara Budha tanpa gaji/pamrih, jauh dari kegemerlapan dunia dan keluarga, dengan segala atributnya, termasuk penggunaan jubah berwarna jingga setiap waktu ber sandal jepit kemana-mana sebagaimana Pendeta Agama Budha pada umumnya. Beliau sengaja terbang pagi itu dari Chiang Mai ke Bangkok (berjarak sekitar Jakarta – Surabaya) hanya untuk menemui saya beberapa jam, karena harus mengejar jadwal KA Cepat kembali lagi ke kehidupannya di Vihara Budha seperti biasanya.
Saya sempat bungkam meneteskan air mata dirundung rasa haru bercampur gembira, langsung memeluk saudara Siam-ku ini tatkala kami berjumpa di lobbi Hotel Emerald pukul 8:30 pagi itu, setelah hampir lima tahun terakhir tidak berjumpa. Rupanya sikap saya yang mengumbar rasa kangen dan memeluk sahabat saya tersebut merupakan perlakuan yang kurang etis terhadap pendeta Budha. Pantas saja beliau sedikit menahan badan saya untuk merapat ke badannya sewaktu saya memeluknya.
Beliau memberitahu secara sopan bahwa sebagai pendeta Budha, dia harus mentaati sekitar 133 ketentuan pola tindak dalam kehidupan sehari-harinya. Antara lain tidak berpelukan atau jabatan tangan pada saat bertemu, melainkan hanya bersalaman dengan merapatkan kedua telapak tangan sambil membungkukkan badan memberi hormat tanpa bersentuhan seperti cara bersalaman yang umum di lakukan di Tanah Sunda (Periangan).
Sambil berjalan beriringan, menuju rumah makan di blok seberang, Mr. Kiattisak mengatakan bahwa perlakuan saya di lobbi Hotel Emerald barusan merupakan pengecualian bagi sahabat dan saudara angkatnya dari Indonesia yang hidup dalam “dimensi” spiritual dan norma yang berbeda.
Beliau sempat mengantarkan saya ke spermaket (yang katanya tidak umum dilakukan pendeta Budha) untuk membelikan berbagai suvenir dan makanan kecil khas Thai yang akan saya bawa pulang ke Jakarta. Saya sempat dibelikan beberapa baju kaos kuning berlogo ulang tahun ke 80 Raja Muang Thai yang sempat sebelumnya saya tanyakan maknanya. Baju tersebut secara skarela digagas dan dikenakan oleh warga negara Thailand sehari-hari baik pada acara keluarga maupun acara resmi selama satu tahun penuh sebagai ungkapan rasa cinta, kesetiaan dan penghargaan kepada Rajanya yang puncak acara ulang tahunnya ke 80 akan berlangsung pada tanggal 5 Desember 2007).
Sambil menunggu keberangkatan KA pukul 14:30 yang akan mengantarkannya kembali, banyak sekali hal-hal yang kami perbincangkan selama sejam lebih, mulai pembicaraan nostalgia yang ringan-ringan sampai masalah ekonomi bahkan politik pemerintahan. Rupanya Mr. Kiattisak, saudara Siam-ku ini, meskipn beliau nampak lebih tua dengan uniform Pendeta Budhanya, kini beliau jauh lebih piawai dan lebih mumpuni dalam membahas isu-isu sosial, ekonomi. politik, apalagi di bidang spiritual ketimbang dulu pada waktu perjumpaan kami terakhir lima tahun lalu dalam kapasitas beliau sebagai pakar teknologi keairan.
———
Diantara pandangan beliau yang dapat saya rekam dalam pembicaraan sejam adalah reaksi spontan dari pertanyaan saya tentang hal-hal yang memotivasi beliau untuk hijrah ke dalam kihidupan spiritual — yang katanya sangat jarang dilakukan pakar teknik. Beliau secara lancar mengemukakan bahwa motivainya adalah semata mata untuk mendermabaktikan sisa hidupnya dalam pembelajaran “keikhlasan abadi” menerima kenyataan hidup tanpa dikendalikan oleh “nafsu” keduniaan.
Beberapa saat sebelum KA memasuki stasiun, beliau menyimpulkan bahwa segala perbuatan manusia, baik sebagai individu maupun secara kelompok yang didasari dengan keikhlasan abadi yang datang dari hati nurani yang jernih akan membawa kemakmuran dan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun kelompok. Hal tersebut akan secara kumulatif menjelma menjadi kemakmuran individu, yang beresultante pada kemakmuran rakyat dan pada gilirannya bermuara kepada keberhasilan pemerintah mengantarkan rakyatnya kepada kemakmuran sejati lahir bathin — Jadi semua berpangkal dari “keikhlasan hati nurani” sejati-lah yang memotivasi saya menjadi Pendeta Agama Budha, tuturnya menutup pembicaraan sambil pamit menaiki gerbong KA yang akan mengantarkannya kembali ke alam kehidupan sejatinya. Saya hanya bisa meneteskan aimata melambaikan tangan memandang jubah berwarna jingga yang melambai ditiup angin, perlahan menghilang dari pandangan mata saya.
Akankah saya bertemu kembali dengan saudara Siam-ku ini? Apapun kisah selanjutnya dari persaudaraan kami, yang jelas bahwa kami berdua akan tetap menyatu mengarungi sisa umur dalam kehidupan,dengan spiritual yang berbeda, namun dengan muara yang sama — “persaudaraan anak manusia yang bebas dari batas-batas geografi, bangsa, agama, kepecayaan maupun adat istiadat”.
———
Refleksi Individu dalam Berbangsa dan Bernegara:
Setiap kali saya berkunjung ke negara saudara Siam-ku ini, selalu saja banyak bahan pembelajaran yang dapat saya petik, khusunya menikmati poses pertumbuhan negara ini dari waktu ke waktu. Namun demikian, kunjungan saya kali ini seolah menjelma sebagai titik kulminasi pembelajaran yang menyimpulkan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara Negeri Gajah Putih ini semakin jauh melejit meninggalkan kita.
Hal yang membuat saya lebih terenyuh pada kunjungan kali ini adalah mengetahui kemampuan pemerintah bersama segenap komponen masyarakatnya mempertahankan konsistensi keberlanjutan pembangunan di segala bidang, termasuk Kemampuan SDM dalam mewujudkan wacana menjadi kenyataan, setidaknya tercermin dalam penyiapan prasarana publik seperti bandara internasional, prasarana transportasi bawa tanah (sub way), keteta layang (sky train), prasarana pengendalian banjir yang serba mutakhir, yang hingga kini, telah belasan tahun masih tetap menjadi wacana bagi Indonesia, khususnya penataan perwajahan DKI Jakarta, Ibu Kota Negara kita tercinta.
Dari renungan saya mencari jawaban atas kesuksesan Negeri Gajah Putih ini melejit, saya menemukan pangkal benang merah dari refleksi kehidupan saudara Siam-ku yang bersedia meninggalkan gemerlapan kehidupan dunia untuk menemukan keikhlasan nurani sejati atas individu, maupun kelompok, demi kemasalahatan orang banyak.
Bagaimanapun juga, refleksi pencapaian keikhlasan abadi warga negara terhadap pemerintahnya yang datang dari hati nurani yang jernih, secara kumulatif akan menjelma menjadi kemakmuran individu, kemakmuran rakyat yang pada gilirannya bermuara kepada keberhasilan pemerintah secara timbal balik mengantarkan rakyatnya kepada kemakmuran negara dan bangsanya, lahir bathin.
———
Meskipun Pesawat Garuda yang mengantarkan kami kembali ke Tanah Air mengalami keterlambatan operasional, saya sempat mengambil hikmahnya dengan menyiapkan artikel ini sampai selesai sebelum saya bersama isteri tiba di Makassar dengan pesawat terusan dari Bangkok pada dini hari esoknya.
Di Makassar, saya sangat senang dan berbangga hati bisa menemui sahabat-sahabat yang baru saya jumpai dari dunia maya (di Situs Panyingkul), penuh keakraban sebagi teman lama saja. Terlebih-lebih setelah saya menerima buku “Makassar di Panyingkul” di mana berapa artikel saya ikut diterbitkan dan diluncrkan dalam rangka memperingati setahun “Panyingkul” di dunia maya.
Menyadari besarnya komitmen dari komunitas “panyingkul” yang telah bekerja dengan militan, saya menjadi sangat optimis bahwa dengan kebangkitan generasi penerus yang berbasis “keiklasan hati nurani tanpa pamrih”, rasanya tidak ada kata “terlambat” untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara tetangga seperti negeri Gajah Putih, negerinya sahabat yang telah menjadi saudara angkatku, Mr. Kiattisak Tong Prasert yang saya sangat kagumi.
Semoga benih-benih persahabatan antar lintas suku, bangsa, ras, dan agama semacam ini bertumbuh kembang mengantarkan umat manusia ke kemakmuran dan kebahagian sejati, di bawah naungan Rakhmat, Hidayah dan Perlindungan Sang Khalik, Maha Pencipta, Yang Pengasih dan Penyayang.
Jakarta, 10 Juli 2007.
Powered by ScribeFire.










