Naskah Orasi Ilmiah dalam rangka pengukuhan menjadi Widyaiswara Utama (Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia) pada Departemen Pekerjaan Umum. Dilaksanakandi Ruang Sidang Sapta Taruna Departemen Pekerjaan Umum, Jalan Pattimura No. 20/Perc 7, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, 13 Desember 2006.
* Naskah dalam format doc juga dapat didownload di link berikut : -klik kanan > save target as-
www.geocities.com/hafiedgany/naskah_orasi_ilmiah_final_blog.doc
“DIMENSI SEJARAH TEKNOLOGI KEAIRAN DAN PERSPEKTIF PEMBELAJARAN EMPIRIS MODERN”
Oleh: A. Hafied A. Gany
gany @hafied.org; gany @scientist.com
Multidisciplinary Faculties of Rivers:
“I entered upon the small enterprise of “learning” twelve or thirteen hundred miles of the great Mississippi River with the easy confidenceof my time of life. If I had really known what I was about to require of my faculties, I should not have had the courage to begin”. ‘Mark Twain’
Rivers and Lovers:
“We must look after rivers like we care our lovers. Make Sure rivers arealways beautiful”.
(‘Mahatir Muhammad’, The Stright Times: Asia, May 2001)
(Perpaduan keduanya mengandung makna filosofis bahwa: “Begitu kompleksnya Pengelolaan SDA, sehingga hanya bisa optimum bila dihampiri dengan pemberlakuan “sungai” sebagai “kekasih” yang tercinta”)
PREAMBUL
Assalamu Alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh,
Yang terhormat:
Bapak/Ibu Pejabat dan Nara Sumber dari Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, Lembaga Administrasi Negara, Instansi terkait, Sekjen Dep. PU., Kepala Pusat Diklat PU, Para Widay Iswara, Pimpinan dan Staf Pusat Diklat Departemen PU, Para Undangan yang saya hormati serta Bapak Ibu para hadirin sekalian, yang saya muliakan.
Mengawali paparan ini, saya memohon perkenan para hadirin yang saya hormati untuk bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Allah S.W.T., atas segala Rakhmat yang telah mengalir tiada putusnya dilimpahkan kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul pada kesempatan yang berbahagia ini dalam keadaan sehat sejahtera, sarat dengan cinta-kasih.
Selanjutnya, merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya, pada kesempatanyang sangat berbahagia ini untuk dengan segala kerendahan hati memaparkan kehadapan sidang yang terhormat ini, hasil kajian dan kulminasi pemikiran yang telah saya tekuni, dalam perjalanan panjang karier saya sebagai PNS, mulai dari sekitar empat dasa warsa berselang, sampai kepada terwujudnya kapasitas professional saya saat ini sebagai Widya Iswara Utama Departemen P.U. Hal ini saya lakukan dalam rangka memenuhi ketentuan Pemerintah tentang Pembinaan W.I., dan kewajiban melakukan orasi ilmiah dalam bidang keahlian masing-masing.
Untuk itu-lah saya memohon perkenan para hadirin yang mulia untuk menyampaikan orasi ilmiah ini dengan judul “Dimensi Sejarah Teknologi Keairan dan Perspektif Pembelajaran Empiris Modern” yang saya siapkan melalui serangkaian analisis dan studi literatur yang diperkaya dengan akumulasi pengalaman lapangan saya sebagai kajian empiris sepanjang perjalanan karier saya sebagai profesional rekayasa keairan di lingkungan Departemen P.U.
Paparan saya awali dengan ‘pendahuluan’ yang memberikan berbagai batasan, latar belakang, identifikasi masalah, pendekatan analisis serta intisarinya, untuk memberikan gambaran menyeluruh.
Pada uraian selanjutnya saya mencoba mengelaborasi berbagai rujukan dari bukti-bukti kongkret sejarah peradaban teknologi SDA di sepanjang lorong waktu dari berbagai belahan bumi – dari seputar Budaya Air purbakala di Lembah Sungai Nil, Sungai Tigris dan Eupurate; Peradaban Yunani Kuno; Bangsa Persia (Iran Kuno); Bangsa Turki; Bangsa-Bangsa Asia Purba; Meso Amerika Pra-Columbia; Bangsa Romawi; Peradaban Islam Lama; sampai kepada warisan Peradaban Rekayasa Pengairan diNusantara Indonesia sendiri, sepanjang bukti-bukti sejarah yang ‘saheh’ secara ilmiah.
Para hadirin peserta sidang yang saya hormati dan muliakan,
Dari pijakan seperti tersebut di atas, saya lebih lanjut mencoba memproyeksikannya untuk penajaman perspektif ke depan dengan merujuk kepada pengalaman empiris modern peradaban manusia di bidang teknologi SDA dari berbagai belahan bumi yang dapat saya temukan rujukannya.
Saya berharap bahwa perspektif pengalaman empiris modern yang saya paparkan dalam karya tulis ilmiah ini, setidaknya dapat lebih lanjut menjadi bahan renungan bagi yang berkepedulian (termasuk para perancang, pembuat kebijakan, eksekutif pengambil keputusan, legislatif, yudikatif dan pihak-pihak terkait), dalam proses pembelajaran modern, untuk menimbah hal-hal yang positif, serta selanjutnya tidak mengulangi kekeliruan pendahulu kita, sembari melengkapi pembelajaran “endogeneous” dari khasanah peradaban teknologi SDA yang mengakar dalam warisan budaya kita sendiri untuk menatap ke masa depan dari lorong waktu yang akan dilewati oleh kita semua dan generasi mendatang.
PENDAHULUAN
Para hadirin Peserta Sidang yang berbahagia,
Sampai sejauh ini, dari berbagai rujukan literatur arkheologi, sejarah peradaban manusia, dapat ditelusuri sampai sejauh 7000-an tahun ke belakang. Namun, di bidang peradaban teknologi keairan, temuan arkheologi memberi bukti bahwa manusia telah menerapkan-nya sekitar 5000-an tahun berselang.
Peradaban manusia di kawasan Teluk Persia, misalnya, sudah menerapkan budaya cocok tanam, penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan sejak 5000-an tahun lalu. Bahkan Bangsa Iraq (purba), telah mengembangkan sistem pengelolaan SDA terpadu di lembah Sungai Tigris dan Eupurate – yang legendaris itu –pada Tahun 2500-an S.M.
BERBAGAI BUKTI PENINGGALAN PERADABAN TEKNOLOGI KEAIRAN
Budaya Air di Lembah Sungai Nil:
Seorang ahli filosofi, Bapak Sejarah Purba bernama Herodotus Halikamassos (484 – 425 SM) secara lantang menyatakan bahwa Sungai Nil adalah hadiah tak ternilai bagi Bangsa Mesir, karena tanpa Sungai Nil, Peradaban dan Bangsa Mesir tidak pernah ada. Dapat dibayangkan bahwa dengan curah hujan tahunan rata-rata, yang hanya berkisar 20-an mm, namun budaya pertanian sudah berlangsung sekitar 5100-an tahun SM, dengan teknologi irigasi yang spektakuler.
Para pakar dan profesional teknologi keairan mengenal pertama kali budaya pertanian dengan sistem “Kolmatase”, yakni mengendapkan lumpur Sungai Nil untuk dijadikan sebagai medium (lahan) bercocok tanam. Demikian juga dengan teknologi pengangkatan air untuk menyiram tanaman dengan sistem “Shadoof”, dari peradaban Bangsa Mesir kuno dari lembah Sungai Nil. (Magenis, Alice, 1959).
Bukti peninggalan budaya cocok tanam paling tua di dunia (sekitar 5100-an tahun yang lalu) tergambar pada relief prasasti purbakala Mesir, di mana Raja Scorpion meresmikan suatu Proyek Irigasi di Mesir. (Butzer, 1976, dalam Farhangi, 2004. P. 33).
Budaya Keairan Bangsa Yunani (Kuno)
Demikian juga dengan peradaban Yunani (kuno) dengan Teknik Hidraulik-nya yang sudah berkembang sejak 1500 SM, dengan pembangunan bendungan Tiryns, untuk pengendalian banjir penyediaan air bersih pada ribuan tahun yang lalu. Meskipun konstruksinya hanya pasangan batu dengan mortar dari adukan kapur dan tanah liat, yang sampai saat ini masih tetap bertahan sebagaimana bentuk semula.
Peninggalan Peradaban Bangsa Iran (Persia)
Bagi Bangsa Persia Kuno, UNESCO, mencatat empat buah situs purbakala, antaranya adalah Kompleks Chogha Zambil, dan Bendung Shushtar, mengkombinasikan sistem irigasi, air bersih, sanitasi perkotaan dan kincir air.
Di Kompleks Chogha Zambil yang dibangun pada tahun 1250 SM sebagai pusat kegiatan politik kebudayaan dan agama, misalnya, Teknologi suplai air-nya sudah menerapkan hukum “bejana berhubungan”, mengalirkan air saluran tertutup, dengan panjang pipa 50 km. Airnya sebelum dikonsumsi, terlebih dahulu diproses melalui teknologi penjernihan sistem “filter” dan “pengendapan”, serta sudah dilengkapi dengan sistem drainase air limbah perkotaan. Di Provinsi Khozestan, Iran, pengelolaan SDA dari jaringan sungai-sungai Dez, Karkheh, Mazun, Bahman-Shir dan Krung, sejak ribuan tahun sebelum Tarikh Masehi, telah memanfaatkan teknologi pengelolaan SDA terpadu (Integratd Water Resources Management – IWRM) yang sistem inter-koneksinya sangat rumit. Sementara teknologi IWRM tersebut, pada era modern ini masih menjadi wacana yang sedang diuji untuk diterapkan di berbagai wailayah sungai di dunia, termasuk di Indonesia.
Peninggalan Peradaban Bangsa Turki
Bangsa Turki juga mempunyai sejarah yang panjang di bidang teknologi SDA, sejak Abad ke 17 SM, Kaum Hittites telah membangun waduk di Daerah Golpunar. Juga, sebuah waduk dengan teknologi yang cukup tinggi, pada abad ke 13 SM.
Peninggalan Peradaban Bangsa Iraq
Teknologi SDA yang spektakuler Bangsa Iraq purba pada dua sungai yang secara periodik membawa banjir tahunan di Iraq, yakni sungai Tigris dan Euphrates yang sangat tersohor itu. Pengembangan kedua sungai ini, menerapkan kombinasi antara pengendalian banjir, irigasi, serta kebutuhan air dan pelestarian lingkungan.
Sungai Tigris dimanfaatkan untuk irigasi melalui bendungan Marduk dan Nimrud di dekat Samarra, Bagdad pada Tahun 2500 SM – menjadi legenda teknologi keairan bagi ummat manusia – dan sudah menerapkan teknologi pengelolaan SDA terintegrasi (Integrated Water Resources Management) saat itu.
Peninggalan Peradaban Barat Daya Asia
Peninggalan yang mempunyai dimensi sejarah bendungan tertua di dunia yang berlokasi 100 km barat daya Amman, Jordania, adalah merupakan bagian dari sistem distribusi air dari Kota Jawa yang mencapai kejayaannya pada 3000 SM. Di kawasan Asia Barat Daya, banyak tersimpan peninggalan sejarah purba di bidang SDA, antara lain di Yaman oleh kaum Saba’ dan Kaum Nabatean berupa bangunan bendungan untuk persediaan air dan pengendalikan banjir bandang, dengan teknologi terowongan, untuk pengalihan air banjir. Di kawasan tersebut juga dibangun berbagai check dam untuk menahan erosi, yang merupakan awal ”teknololgi konservasi lahan, air dan lingkungan” yang dalam era modern ini baru menjadi obsesi “kesepakatan Konferensi Bumi tentang Pembangunan Berkelanjutan”, di Rio de Janeiro, Brazilia, tahun 1991.
Di kawasan kontinen dan sub-kontinen India, juga banyak menyimpan budaya teknologi SDA, antara lain Waduk Panada di pantai barat Sri Lanka, dibangun pada 370 SM (dengan volume sekitar 9,00 juta m3), dan sudah menggunakan teknologi ‘sumbu tidak lurus’ yang termasuk teknologi maju saat itu.
Peninggalan Bangsa China
Di dataran Tiongkok Purba, di samping Bangunan tembok raksasa Great Wall – yang tersohor itu – bangsa China juga menyimpan peradaban yang tidak kalah spektakulernya, yakni Grand Canal (alur pelayaran raksasa) yang melintasi sungai-sungai dari kawasan selatan (Shanghai) sampai ke Beijing di utara sepanjang ribuan kilo-meter. Bangsa China mencatat sebuah bendungan yang tersohor pada zamannya yakni bendungan Anfengtang, dibangun 2500-an tahun lalu (100 juta m3) dan masih berfungsi sampai saat ini.
Para hadirin yang saya muliakan,
Di kawasan Benua Amerika di Era Meso Amerika pra Columbia, teknologi SDA juga sudah berkembang sejak ribuan tahun. Komunitas petani tradisional (sebelum budayaZapotecs, Toltecs, Maya, Anazasi dan Aztec) misalnya, telah mampu membangun dan mengelola bendungan antara lain Bendung Xoxocotlan, yang kemudian berkembang di Kawasan Guatemala di sekitar Tahun 600 – 900 M.
Demikian juga dengan Bangsa Aztec sudah mencapai supermasi tinggi di Mexico, yang telah membangun pulau buatan, (“Kebun Gantung”), di selatan Kota Mexico, yang hingga kini menjadi ”obyek wisata air purbakala” dunia. Sementara itu, di kawasan Eropah Bangsa Rumawi sejak beberapa abad SM juga telah menerapkan teknologi SDA, pembuatan bendungan dan terowongan, penurunan muka air danau Albano melalui terowongan sepanjangnya 1200 m’, talang air bersih raksasa, dengan total panjang 423 km. Pada saat tersebut, Bangsa Romawi sudah menggunakan peralatan ukur tanah dan penyipat datar untuk uitzet, abacus untuk menghitung, serta peralatan teknologi SDA yang dikenal saat ini.
Peninggalan Peradaban Islam Lama
Belajar dari bangsa-bangsa Arab generasi terdahulu dan peradaban Islam, dalam waktu hanya sekitar satu abad teknologi SDA berkembang pesat, di Kawasan Afrika Utara, Spanyol, Kawasan Barat Daya Asia sampai kawasan Sungai Indus dan Uzbekistan. Bersama Pendahulu Bangsa Yamani, membangun beberapa bendungan irigasi di sekitar pusat peradaban Islam di Kota Mekkah dan Medina.
Pada Tahun 970 M, bendungan besar Parada dekat Madrid, dibangun oleh orang-orang Yamani yang memperkenalkan budaya pembangunan irigasi dan bendungannya (lebih dari seribu tahun), perpaduan Teknologi Rumawi dan Islam.
Permasalahan Umum Teknologi SDA Purba
Permasalahan umum yang dihadapi pada masa pembangunan prasarana SDA purba tercatat berbagai pengalaman ’ketidak-tersediaan data’ dan tingginya tingkat ’pengangkutan sedimen’. Pada saat itu, pembangunan dilakukan dengan pendekatan ”trial and error” yang berakibat adanya berbagai bendungan yang jebol sebelum dimanfaatkan di samping degradasi waduk-waduk dalam waktu sangat singkat karena akibat endapan sedimen.
Peninggalan peradaban Pengairan di Indonesia
Di Nusantara Indonesia, tidak banyak dijumpai bukti-bukti peninggalan artifak teknologi SDA Purba. Sepanjang catatan sejarah di Indonesia, hanya dikenal berbagai temuan prasasti, misalnya menyangkut Tanggul Banjir “Harinjing”, yang ditemukan di Desa Kepung, di Wilayah Sungai Brantas, bertanggal 726 Tahun Caka, atau 808 M. (Angoedi, 1984., p.25), dan prasasti “Tugu” yang menyebutkan Saluran air Chandra Baga disekitar sungai Cilincing yang dibangun di sekitar abad ke Lima Masehi (Angoedi, 1984., p.28).
Hipotesis tentang Misteri Artifak Purba:
Secara hipothesis, ada yang bependapat bawa Indonesia sebagai negara tropis sulit menyimpan artifak bangunan SDA purbakala yang relatif kecil dan dengan bahan bangunan organik tanpa oksidasi dan pelapukan – sehingga bekas peninggalan artifak tidak akan tertinggal setelah ribuan tahun berselang.
Ada juga yang berpendapat bahwa Nusantara Indonesia sebagai kepulauan tropis, mempunyai beragam budaya yang terpencar dalam kelompok kecil-kecil, sehingga tidak dituntut dengan pembangunan infrastruktur besar untuk memenuhi hajat hidup mereka – dan juga karena karunia keberlimpahan air.
Dengan argumentasi hipotetis ini mudah dipahami jika peradaban teknologi keairan dengan system infrastruktur sederhana, tidak pernah dapat tertinggal artifaknya untuk berbicara kepada generasi penerus, tanpa lapuk ditelan masa.
Sistem Irigasi Sederhana
Kepulauan Nusantara banyak menyimpan contoh warisan nenek moyang, budaya pertanian beririgasi sampai di era modern ini. Misalnya, sawah bertingkat di Pulau Bali, Lombok, Jawa, Sumatera, Sulawesi, serta system irigasi tradisional tersebar di seantero Kepulauan Nusantara.
Pembangunan bendung di sungai cukup dengan konstruksi sederhana dengan memanfaatakan bahan bangunan yang dapat diperoleh di sekitarnya, misalnya dengan “bendung bambu”. Demikian juga dengan teknologi konstruksi sederhana bangunan bagi, kincir air, bangunan pengukur air, pembuatan terowongan dengan peralatan ukur tradisional, namun dengan akurasi yang baik. Sistem irigasi tradisional dari ”petak-ke-petak”, malahan ditengarai pakar ekologi modern saat ini sebagai teknologi O&P irigasi yang sangat ramah lingkungan.
Berbagai Keterangan dari Relief pada Candi-candi di Pulau Jawa
Berbagai keterangan tentang eksistensi budaya pertanian beririgasi dan pengelolaan SDA diketemukan pada relief-relied candi di Pulau Jawa, misalnya di Candi Borobudur menggambarkan kehidupan masyarakat pra-budaya cocok tanam, berburu, menangkap ikan, mengumpulkan buah-buahan, penggunaan air untuk kehidupan rumah tangga sehari-hari, dsb.
Relief lain di Candi Borobudur juga menggambarkan teknolologi pengolahan sawah, penanggulangan hama, burung dan tikus, serta kegiatan pasca panen di mana penduduk bersukacita menyambut panen dengan bahan pangan melimpah.
Pada sebuah relief candi di Musium Trowulan diperoleh bukti yang menggambarkan budaya ber tanam padi di sawah dan budaya persawahan beririgasi. Malahan dari relief Candi Prambanan diketemukan bukti mengenai upaya memanfaatkan air dengan pendekatan keterpaduan antara penyediaan prasarana SDA dan pelestarian ekosistem berkelanjutan, teknologi “pancuran” air untuk pemanfaatan air bagi kehidupan, manusia, fauna dan flora serta kelestarian lingkungan.
Banyak bukti-bukti lain yang dapat dikemukakan, termasuk perdagangan hasil panen, yang diangkut dengan kapal layar untuk perdagangan domestik dan manca negara. Semua gambaran pada relief-relief purba tersebut, langsung atau tidak, pasti melibatkan teknologi SDA.
Misteri yang belum terungkap
Dari relief-relief yang dibuat oleh nenek moyang kita pada era Candi Borobudur, Prambanan dan lainnya, di abad ke 7-10 Masehi tersebut, dapat dipastikan bahwa peradaban teknologi air yang digambarkan dengan sempurna tersebut, pasti sudah jauh lebih lama dari pembangunan candi itu sendiri.
Sayangnya bahwa sampai saat ini kita belum bisa mengungkapkan bukti sejarah, kapan persisnya Nenek Moyang Bangsa Indonesia mulai mengenal teknologi keairan dan lingkungan, sebagaimana dibuktikan oleh Bangsa-bangsa lain di berbagai belahan bumi – seperti uraian saya terdahulu.
Apakah teknologi SDA kita memang lebih belakangan? Atau memang belum diketemukan bukti-bukti arkeologi-nya? Atau barangkali hipotesis tentang peninggalan artifak konstruksi sederhana sudah hancur terkubur dipacu proses oksidasi dan pelapukan iklim tropis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menyimpan banyak misteri dan sekaligus tantangan ke depan untuk mengungkapkannya.
MISTERI LORONG WAKTU TEKNOLOGI SDA
Dari temuan arkheologi yang ada, peradaban Teknologi SDA, dapat ditelusuri sampai sejauh 5000-an tahun lalu, namun di Nusantara Indonesia, sejarah pengembangan teknologi keairan dan lingkungan yang dapat diketengahkan bukti konkretnya, yang paling tua adalah saluran Chandra Bagha di sekitar Bekasi pada Thn 500 Masehi, mendahului pembangunan Candi Borobudur beberapa ratus tahun.
Jadi sepanjang sejarah manusia, terbentang ”Dimensi Lorong Waktu Sejarah” teknologi keairan dan lingkungan yang cukup panjang, yakni sejak Raja Scorpion pada Tahun 3100 SM sampai zaman modern. Periode tersebut merupakan ”Dimensi Lorong Waktu”, di mana kita semua juga akan menjadi pemeran untuk menorehkan seberkas warna dari ‘mozaik lorong waktu’ tersebut yang sangat panjang ke depan, yang pada gilirannya akan berbicara kepada pemegang estafet peradaban generasi mendatang.
RENUNGAN BAGI PEMBELAJARAN MASA DEPAN
Dari berbagai ungkapan di sepanjang lorong waktu tersebut, sangat banyak pembelajaran yang dapat dipetik untuk menyempurnakan teknologi masa mendatang. Misalnya, di Bidang Teknologi Perencanaan, banyak pengalaman terjadinya under-designed, dan atau over-designed, yang berakibat bangunan tidak berumur lama atau tidak berfungsi optimal.
Di bidang konstruksi, banyak pembangunan prasarana bendungan purba yang tidak difasilitasi terowongan pengelak sehingga jebol sementara pelaksanaan konstruksi berlangsung. Di bidang Pengendalian Banjir dan Konservasi SDA, banyak pengalaman dapat dijadikan rujukan, misalnya, membangun check dam untuk menahan laju erosi, dan endapan sedimen lahan untuk media bercocok tanam, sekaligus sebagai “teknologi konservasi” lahan dan air – yang baru mulai menjadi isu sentral Pengelolaan SDA untuk diwujudkan dalam era modern ini.
Dengan segala kepiawaian pakar, temuan demi temuan masih terus terungkap dari waktu ke waktu. Temuan terbaru bisa mematahkan hipotesis terdahulu tentang temuan yang duluan terungkap. Betapa masih banyaknya misteri dimensi sejarah teknologi keairan yang belum terungkap hingga kini untuk membentuk pembelajaran perspektif menuju masa depan.
Tidak mustahil bahwa Bumi Nusantara, masih banyak memendam misteri peradaban teknologi SDA. Sehingga tetap terbuka peluang sekali gus tantangan maha berat yang terbuka lebar ke depan untuk dicermati.
Tuntutan pelestarian SDA bagi generasi mendatang, di samping bertumpu pada aspek perencanaan, pembangunan, konservasi, dan pelestarian, juga Pengelolaan SDA terpadu, merupakan rangkaian teknologi yang sangat esensial – bahkan mutlak – untuk diterapkan secara efektif dan efisien. Kulminasi sejarah Teknologi SDA merupakan rangkaian pengalaman empiris peradaban manusia di sepanjang peradaban teknologi keairan modern, yang harus terus dicermati. Masalahnya bahwa SDA di bumi sepanjang lorong waktu, jumlahnya tetap, namun kualitasnya semakin rentan akibat ulah manusia yang populasinya semakin meledak. Sebuah tantangan ke depan yang maha berat bagi semua, tidak terkecuali bagi Indonesia!
Para Hadirin yang saya hormati,
Perkenankanlah saya mengulas sekelumit mengenai wacana pembelajaran empiris modern yang selama ini telah berkembang di berbagai negara melalui pengalaman teknologi masa silam, untuk bahan perbandingan bagi para teknokrat dan pengambil keputusan di negara kita yang tercinta ini.
Dari rangkaian uraian terdahulu, dan setelah saya mencermati teknologi modern yang dimiliki bangsa-bangsa lain, saya ”berpendapat” bahwa teknologi SDA di Indonesia, saat ini sangat banyak tertinggal dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan dengan banyak negara yang berbasis pertanian beririgasi.
Malahan teknologi SDA kita cenderung menjadi statis di bandingkan dengan Vietnam sekalipun. Misalnya, posisi Indonesia di bidang irigasi di sekitar awal kemerdekaan, yang konon menduduki peringkat ke lima dunia, setelah Pakistan, Amerika Serikat, China dan India, sekarang ini peringkat tersebut telah diraih oleh ”Iran” (negara yang nota-bene belokasi di kawasan kritis air), dan kini Indonesia menurun ke peringkat Sembilan, setelah Thailand, Turki dan Mexico. Malahan Bangladesh dan Uzbekistan dapat segera melewati Indonesia jika kebijakan pengelolaan SDA kita masih tetap kepada ”Business as Usual Scenario”.
MENGGAPAI TEKNOLOGI SUMBER DAYA AIR KE DEPAN
Untuk bangkit dari ketertinggalan, setelah mengalami masa lampau yang ”gemilang”, nampaknya kita harus ada ”komitmen politis” untuk segera menggalakkan semacam gerakan kebangkitan Teknologi SDA, dengan mencoba belajar dari apa yang sudah berkembang di dunia modern ini, tanpa harus meniru atau ”tanpa apriori” (sebelum memahami) hal yang tidak musti harus sesuai dengan kondisi di Indonesia. Menurut hemat saya, hanya dengan cara inilah kita bisa bangkit dari ”kelambanan” dan ”ketertinggalan”.
Para hadirin yang saya hormati,
Terlalu banyak teknologi SDA yang sudah berkembang di berbagai belahan bumi (untuk disebut satu persatu) mulai dari system perencanaan kebutuhan air irigasi menggunakan data indra satelit jarak jauh (satellite images), pembangunan dan pengelolaan bendungan ramah lingkungan, teknologi hemat air, teknologi pengelolaan SDA terpadu, teknologi pengelolaan irigasi partisipatif, teknologi O&P ”kendali jarak jauh” (remote control), teknologi beutifikasi prasarana SDA, pertanaman Padi – SRI, teknologi pengolahan tanah, dan pemanenan masinal (mechanical harvesting) semacamnya.
Untuk menanggulagi krisis air, kuantitas, maupun kualitas, saat ini para ahli irigasi di dunia sedang menggalakkan penggunaan teknologi hemat air dan penggunaan teknologi irigasi mikro antara lain sprinkler, irigasi tetes (drip irrigation), irigasi alur (furrow irrigation), irigasi center rvivot; bahkan irigasi daur ulang air limbah (teknologi konservasi air), dan penggalakan multifungsi irigasi lainnya. Dengan demikian, SDA dapat dihemat, diawetkan, dan dimanfaatkan berganda untuk menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan berkelanjutan.
Mengetahui peradaban masa silam dan menyandingkannya dengan pandangan ilmu pengetahuan modern, diharapkan bahwa pandangan dari sisi sejarah masa lalu dan teknologi modern, dapat kita kemas bersama menjadi upaya yang efektif, efisien dan berkelanjutan (dan tidak mendikotomikannya) – sebagai obsesi generasi masa kini untuk diwariskan sebagai “maha-karya” generasi kita kepada generasi penerus.
RENUNGAN PENUTUP
Para Hadirin yang saya hormati dan muliakan,
Sebelum mengakhiri paparan saya ini, ingin saya melontarkan seuntai kata sebagai himbauan kepada diri saya dan kepada kita semua, kiranya menjadi bahan renungan lebih lanjut.
Kita belajar dari sejarah bahwa teknologi SDA bukanlah menjadi monopoli para teknokrat” bidang SDA, tetapi merupakan suatu kegiatan yang ‘sangat-sangat’ bersifat multi-disipliner dan harus disikapi dengan pendekatan inter-disipliner (sosial, ekonomi, budaya, moral, etika, bahkan pertahanan dan keamanan), dengan melibatkan semua pihak secara partisipatif termasuk para petinggi eksekutif, legislatif, judikatif, profesional, sektor pendidikan, dunia usaha, masyarakat dan kita semuanya yang pasti membutuhkan air untuk kelangsungan hidup.
Pengelolaan SDA bukanlah sama dan sebangun dengan “irigasi” tetapi jauh lebih dari sekedar itu, menggapai tuntutan kehidupan dan penghidupan semua pihak yang ‘amat sangat’ luas dan hetrogen. Untuk itu, sangat arif jika mulai saat ini juga, kita mengintrospeksi diri tentang perlakuan kita terhadap air selama ini, dan belajar memberlakukan air ‘laksanan kekasih tercinta’ dan secara sadar menerapkan kebijaksanaan air dalam hidup kita sehari-hari sebagai suatu “gerakan moral sosial”, tanpa merasa sedang diperintah oleh pihak eksternalitas hati nurani.
Kebijaksanaan pengembangan dan pengelolaan SDA ke depan dituntut untuk mengoptimalkan manajemen aset, dan mengupayakan semaksimum mungkin mengembangkan pendekatan “Participatory Irigation Management – PIM” dengan penekanan kepada fungsi-fungsi irigasi/SDA, termasuk “fungsi eksternal” terkait. Ke depan, peranan SDM, dalam konteks kapasitas, kesiapan ‘profesionalitas’ dan kecukupan, sangat dituntut dengan kesediaan untuk berparisipasi secara baik dengan kombinasi yang berimbang antara pendekatan top-down dan bottom-up approach.
Pengaturan kelembagaan yang kondusif, dengan menganut prinsip taransparansi, demokratisasi dan desentralisasi yang harmonis, sangat perlu “komitmen politis” untuk konsistensi dukungan ketersediaan ”sumber daya dana” atau pendanaan yang memadai untuk pemberdayaan SDM dan penyelenggaraan O&P berkelanjutan. Perlu pertimbangan penerapan diversifikasi tanam yang kondusif terhadap pasar, penerapan teknologi modern, industri berbasis pertanian, optimalisasi multifungsi pertanian beririgasi, termasuk pertanian rekreasi, dan industri turisme berbasis pertanian yang saat ini menjadi kegandrungan di negara-negara maju. Perlu konsistensi dan keberlanjutan experimentasi untuk mengikuti perkembangan “State-of-the-Arts” pertanian beririgasi – yang sekali gus sebagai seni, ilmu pengetahuan dan teknologi – melalui penelitian dan pengembangan (LITBANG) yang konsisten dan berkelanjutan. Hal ini sangat mutlak, karena tidak ada suatu “panacea” yang dapat menyelesaikan masalah-masalah SDA yang sangat hetrogen – kecuali setelah melalui pengujian LITBANG terpadu yang berkompetensi profesional.
Hadirin yang mulia,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankanlah saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendorong saya, memberikan semangat, membimbing dan membagi ilmu dan pengalaman serta memberikan kesempatan dan kepercayaan.
Saya menyampaikan puji dan syukur kehadirat Ilahi dan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Bapak Menteri Pekerjaan Umum dan jajarannya, Ketua dan Anggota Panitia Penilai Pusat Jabatan Fungsional Widya Iswara serta Majelis Penilai W.I., atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengemban tugas sebagai Widya Iswara Utama pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Sekjen Departemen Pekerjaan Umum.
Ucapan terima kasih, tidak lupa saya sampaikan pula kepada segenap Pimpinan dan jajaran Departemen Pekerjaan Umum, Sekretaris Jenderal dan Kepala Pusat Diklat pegawai PU., serta rekan-rekan Widya Iswara yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada saya, sehingga sidang Orasi Ilmiah ini dapat terselenggara dengan baik.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada almarhum ayah dan Ibu saya atas segala jasanya membesarkan, membimbing dan mendukung moral, material serta spiritual sampai saya bisa menyelesaikan pendidikan tertinggi. Semoga kedua orang tua saya mendapatkan balasan sesuai dengan amal bhakti beliau dan ditempatkan di sisi Allah dengan ampunan atas segala dosa dan kesalahannya.
Penghargaan dan terima kasih yang paling akhir, akan tetapi maknanya paling besar, saya sampaikan kepada isteri dan ketiga anak, serta kedua cucu saya atas segala pengorbanan, pengertian, dorongan, dan pemberian semangat-nya.
Akhir kata, dengan penuh hormat, saya sampaikan terima kasih kepada para hadirin yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti orasi ilmiah ini dengan penuh ketekunan
dan kesabaran. Mohon maaf atas segala kekurangan dan atas segala hal yang tidak berkenan di hati para hadirin sekalian yang saya muliakan.
Wa Billahi Taufiq Walhidayah
Wassalamu’ Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
A. Hafied A. Gany, Ph. D., P.Eng
http://www.hafied.org ; http://gany.wordpress.com
~~~~~
BIBLIOGRAFI:
Alisyahbana, Iskandar, 1980, Teknologi dan Perkembangan, Jakarta, Yayasan Idayu.
Anglin, Gary, 1991, Instructional Technology Past and Future, Englewood, Librariws Unlimited.
Coopey, Richard, et. al. (ed), 2005. A History of Water Issues. United Nations University, New York, NY, 10017, USA.
Farhangi, B., et.al. 2004. Water Melody in the Passage of Time: A Review of Hydro Structures of Iran From the Ancient Era to Present Time. Iranian National Committee of ICOLD, July 2004.
——-, 1998. Contemporary Dam Construction in Iran. Iranian National Committee on Large Dams and Ministry of Energy and Water Affairs, Islamic Republic of Iran., 1998.
Gany, A.H.A , 2005. Sumber Daya Air Memasuki Era Globalisasi: Dari Perspektif Hidrologi, Desentralisasi dan Demokratisasi di Seputar Konstalasi Privatisasi dan Hak Guna Air., Jurnal Mahkamah Konstitusi Volume 2 Nomor 2, September 2005.
——-, et. al., 2004. Irrigation History of Indonesia. Ministry of Settlement and Regional Infrastructures (Public Works) in Collaboration with The Indonesian National Committee of ICID. Jakarta August 2004.
——-, 2001. Subak, Irrigation System in Bali: An Ancient Heritage of Participatory Irrigation Management in Modern Indonesia. Research Institute for Water Resources, Ministry of Public Works, Republic of Indonesia. Bandung, West Java, Indonesia. July, 2001.
Kast & Kasen Weight, James E, 1962, Science Technology and Management, New York, Mc Graw Hill Book Company.
Kingfisher, 1995. Science Encyclopedia, British Library Cataloguing-in-Publication Data, Elsley House, 24-30 Great Titchfield Street, London WIP 7AD.
Linsley, Ray K., Jr. et.al., 1959. Hydrology for Engineer, Second Edition, McGraw-Hill, Kogakusha, Ltd. Tokyo, International Student Edition.
Magenis, Alice, and Appel, John Conrad, 1959. A History of the World. American Book Company, New York, 1959.
UNESCO. 1972. Learning To Be: The World Of Education Today And Tomorrow, Unesco And Harrap
TENTANG PENULIS:
• Nama: DR. (Eng) A. Hafied A. Gany, M.Sc., P.Eng. Lahir di Watan Soppeng, Sulawesi Selatan, tanggal 10 November, 1944.
• Riwayat Pendidikan: Pada Tahun 1979, menyelesaikan studi M.Sc. bidang Pengembangan Irigasi di Universitas of Southampton, U.K.; Ph.D. Bidang Pengembangan Irigasi di Universitas Columbia Pacific, California USA, 1982. Pada Tahun 1993, dia memperoleh gelas Ph.D. bidang interdiscipliner Teknik, Ekonomi, Sosial dan Demografi Universitas of Manitoba, Kanada.
• Diklat Kepemimpinan: Alumni Diklat SPATI, Lembaga Administrasi Negara, Angkatan II, 1996.
• Riwayat Jabatan: Tahun 1995-2003, berturut-turut menjabat sebagai: (1) Direktur PPSDA, Ditjen Pengairan Departemen PU; (2) Sekretaris Ditjen SDA, Departemen PU; (3) Asisten Deputi SDA Bidang Konservasi, Kantor Meneg PU; (4) Kepala Pusat Litbang SDA, Departemen Kimpraswil; (5) Sekretaris Balitbang Departemen Kimpraswil.
• Widyaiswara Utama: Diangkat Menjadi Widyaiswara Utama Departemen Kimpraswil, Tanggal 5 Mei 2003, dengan SK Presiden Tertanggal 5 Mei 2003, No. SK:KR-26/11/0003/C/03/18.
• Organisasi Profesi: Dari Tahun 1993 sampai saat ini berturut turut sebagai: (1) Sekretaris Jenderal Komite Nasional Indonesia – ICID (Indonesian National Committee of International Commission of Irrigation and Drainage; Tahun 1993-2001; (2) Presiden Indonesian Chapter of INPIM 1996 sampai sekarang; Anggota Dewan Penilai Insinyur Profesional PII, dan HATHI, dari Tahun 1995 sampai sekarang; (3) Dari Tahun 2001 sampai sekarang sebagai Ketua KNI-ICID Bidang Hubungan Internasional; (4) Anggota Kelompok Kerja Internasional Bidang Sejarah Air; ICID sejak 2004 sampai sekarang.
• Penghargaan: (1) Karya Satya 20 Tahun dari Menteri Pekerjaan Umum, Desember 1988; (2) Karya Satya 30 tahun dari Presiden RI August 1996; (3) Satya Lancana Wirakarya dari Presiden RI, Desember 1996; and (4) Satya Lancana Pembangunan 1997.
• Karya Ilmiah Professional: Sekitar 100 makalah ilmiah dan buku yang diterbitkan di dalam dan luar negeri, di samping pengalaman mengikuti kegiatan ilmiah nasional dan Internasional, seminar, symposium, konferensi, kongres, dan lokakarya.
* Naskah dalam format doc juga dapat didownload di link berikut : -klik kanan > save target as-
www.geocities.com/hafiedgany/naskah_orasi_ilmiah_final_blog.doc











September 23, 2008 at 1:57 am
Benar-benar mengagumkan sejarah teknologi keairan di seluruh dunia.. Mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang membacanya..
Pak saya mau tanya bagaimana dengan teknologi digitasi pengelolaan DAS di Indonesia, karena saat ini saya sedang berusaha mengangkat topik tersebut dalam skripsi saya… mohon bimbingannya karena saya merasa kesulitan mencari informasi tentang topik ini.. jika bapak tidak keberatan saya mohon informasinya…
Rizaldy (Mahasiswa teknik sipil FT UI peminatan MSDA)
ijalicious87@yahoo.com
June 25, 2009 at 11:41 am
Terima Kasih Pak.
Maju terus teknologi keairan Indonesia…