Naskah Paparan Ilmiah Professor DR. Ir. Radi A. Gany, dalam rangka Peluncuran dan Bedah Buku “SUMBER DAYA AIR: Misteri dan Sejarah di Baliknya” oleh DR. (Eng) A. Hafied A. Gany, M.Sc., P. Eng., Bandung, 30 November 2006.
Professor Dr. Ir. Radi A.Gany adalah Guru Besar pada Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian dan Pasca Sarjana, Universitas Hasanudddin dalam mata kuliah Ekomi Pertanian, dan Pembangunan Pedesaan. Bupati Wajo (1988-1993). Rektor Unhas (1997-2001 dan 2002-2006). Ketua Forum Rektor Indonesia (1998-2000). Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia (2004-2006). Ketua Asosiasi Rektor PT Indonesia-Malaysia 2002-2006. Anggota MPR-RI 1998.
* Naskah dalam format doc juga dapat didownload di link berikut -klik kanan > save target as- :
www.geocities.com/hafiedgany/bedah_buku_radi_blog.doc
SUMBERDAYA AIR:
Misteri, Sejarah, dan Teknologi Di Baliknya
(Pembahasan)
Oleh: Radi A. Gany
i
Pendahuluan
Paradigma Imu Pengetahuan Baru mengajarkan kita bahwa “keseluruhan senantiasa lebih besar dari sekadar penjumlahan bagian-bagian”. Dalam kehidupan sehari-hari, doktrin ini diterjemahkan dalam bentuk kerjasama sinergik antar dua atau lebih lembaga <komponen> yang diyakini akan memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan yang diperoleh oleh masing-masing lembaga <komponen>.
Lebih jauh, doktrin ini mengajarkan kita bahwa kerjasama sinergi antar dua atau lebih lembaga <komponen> dapat menghasilkan fitur (feature) baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh masing-masing lembaga.
Doktrin ilmu pengetahuan baru yang dimaksudkan di atas, sering dinamakan sebagai holisme atau interkoneksitas, juga mempengaruhi cara kita dalam mengelola organisasi. Upaya mengejar keunggulan kompetitif dalam bentuk peningkatan kemampuan daya saing, mulai dinilai tidak memberikan hasil yang sebagaimana diharapkan selama ini. Demikian juga halnya dalam membahas berbagai persoalan tampaknya tidak lagi dapat dilakukakan dengan cara pendekatan Newtonian yang serba deterministik itu. Pengalaman dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara, dan bahkan dalam memahami berbagai gejala semesta menunjukkan bahwa tuntutan pergeseran cara pandang atau paradigma dalam abad baru ini sudah merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dihindari. Sebagaimana yang diajarkan oleh ‘sains baru’ (new sciences) bahwa sekarang ini kita tidak lagi berada dalam kepercayaan bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh sesuatu itu sendiri, melainkan ditentukan oleh hubungan antara sesuatu itu. Dengan demikian, menurut ‘sains baru’, saat ini kita sedang berada dalam cara pandang hubungan dan bukan lagi obyek sebagaimana diajarkan penganut ‘newtonian’ sekitar 200 tahun yang lalu.
Sains Baru (New Sciences) membuka kesadaran baru, bahwa kunci pemahaman terhadap hakekat alam semesta (dalam hal ini bukan hanya fenemona fisik semata-mata, akan tetapi juga fenomena sosial kemasyarakatan) terletak pada interkoneksitas antar komponen atau obyek, bukan pada keberadaan komponen itu sendiri, seperti selama ini difahami sebagai paradigma Newtonian. Pemahaman baru ini memiliki implikasi yang sangat luas, termasuk dalam organisasi penyelenggaraan negara.Kegagalan memahami fenomena kehidupan berbangsa yang terjadi saat ini adalah karena mencoba melihat persoalan atau masalah dari kacamata ‘paradigma lama’.Dengan kata lain, fenomena kontemporer yang saat ini sedang dialami oleh bangsa kita dalam menyelenggarakan pembangunan sosial ekonomi dan kelembagaan, termasuk dalam memahami masalah sumberdaya alam, seyogyanya dilihat dengan kacamata Sains Baru, dengan mengacu pada interkoneksitas sebagai konsep utama.
Di samping itu, Sains Baru tersebut mengajarkan bahwa setiap zaman memiliki spirit sendiri (zeitgeist) yang spesifik, yang akan menentukan arah dari semua kecenderungan yang ada, dan tidak seorangpun memiliki kemampuan untuk merubahnya. Mencoba mengendalikan suatu kecenderungan adalah usaha yang sia-sia.Mungkin pada awalnya, upaya itu akan memberikan hasil yang memuaskan, tetapi keberhasilan itu harus dibayar mahal, dan pada umumnya kita tidak memiliki energi yang cukup untuk mengendalikan kecenderungan tersebut dalam waktu yang relatif lama.
Uraian dalam pendahuluan ini diungkapkan untuk menunjukkan bahwa apa yang terjadi saat ini sesungguhnya adalah suatu pergeseran spirit yang tidak bisa dihindari, dan justru yang diperlukan adalah upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Maka adalah sangat beresiko apabila kita tetap terpaku pada cara pandang deterministik yang diajarkan oleh kaum Newtonian beberapa ratus yang lalu itu. Kaitan antara lontaran pemikiran yang dikemukakan oleh penulis dalam buku: Sumberdaya Air: Misteri, Sejarah, dan Teknologi di Baliknya tampaknya sangat relevan dengan apa yang dikemukakan dalam pendahuluan ini.
ii
Sumberdaya Air Sebagai
Komponen Tatanan
Sumberdaya air sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Proses keberadaannya bukanlah sesuatu kejadian yang berdiri sendiri sehingga bila ditelaah dari kacamata ‘sains baru’ masalahnya akan menjadi sangat kompleks. Implikasi dari kenyataan ini akan mendorong kita untuk memahami sumberdaya air bukan lagi sebagai suatu obyek semata, akan tetapi merupakan komponen dari sebuah ‘tatanan’ atau entity. Yang dimaksudkan dengan ‘tatanan’ atau entity dalam konteks ini adalah sebuah interkoneksitas atau hubungan dan interaksi antara berbagai komponen, yang akan menentukan sifat dari keseluruhannya.
Dalam pengertian yang lebih umum, tatanan dapat berati hubungan dan interaksi antara manusia dengan manusia, atau antara mahluk dangan mahluk lainnya dan hubungan antara mahluk manusia/mahluk hidup dengan lingkungannya, dan tetntu saja secara transendental adalah hubungan dengan sang Pencipta Alam Semesta. Keasadaran tatanan <kosmologis> inilah yang akan menentukan kualitas dari sebuah tatanan.Artinya sebuah tatanan yang berkualitas, akan diukur pada kualitas hubungan antar komponen yang membangunnya. Jagad raya ini akan menjadi baik apabila interaksi dan hubungan antar komponen terwujud dalam suatu keharmonisan. Tidak ada satupun komponen yang tidak akan memberi kekuatan atau ‘impulse’ pada komponen lainnya—sekalipun itu negatip.
Apa yang dikemukakan oleh penulis <Hafied A.Gany> dalam kerangka pemikirannya bahwa sumberdaya air haruslah ditelah secara multidimensional sesungguhnya adalah wujud dari tuntutan perubahan cara pandang pada abad baru ini. Semakin jauh kita menelesuri dan menelaah aspek ingeneering atau kerekayasaan sumberdaya air, akan semakin sadar kita bahwa ketergantungannya pada aspek non teknis akan semakin besar. Banyak sekali ilustrasi yang dapat kita kemukakan sebagai bukti emperikal dari fenomena ini. Berbagai fenomena dan gejala yang berlangsung di sekeliling kita menunjukkan bahwa semuanya itu adalah susatu proses yang non-linear dan sarat dengan ketidakpastian.
Air sebagai sumberdaya alam yang secara primer dibutuhkan oleh semua unsur yang ada di jagad raya ini. Bukan hanya oleh mahluk biologis, akan tetapi juga oleh unsur-unsur non-hayati untuk menjaga berlangsungnya keseimbangan dan harmoni di jagad raya ini. Pada saat keseimbangan itu terganggu maka akan timbullah ‘chaos’ yang selanjutnya menuntut penyesuaian ‘zeitgeist’ atau roh baru. Semakin sigap kita menemukan upaya penyesuaian spirit baru tersebut, maka semakin cepat pulalah pulihnya interkoneksitas atau hubungan yang mengalami ‘chaos’ tersebut menuju kepada keseimbangan baru.
Laplace yang menekankan pembangunan manusia sebagai individu, yang dijabarkan dari filsafat Descartes bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diperlukan agar manusia dapat mngendalikan dan memanfaatkan alam semesta, ternyata sangat tidak sejalan dengan kesadaran kosmologis yang mengutamakan hubungan dan interaksi antar berbagai komponen yang membangun tatanan di jagad raya ini dapat berlangsung dalam keseimbangan yang dinamis.
Pemikiran Hafied A Gany saya nilai memiliki sukma dari cara pandang baru yang dikemukakan di atas.Spirit atau cara pandang baru yang berbsis tatanan sesungguhnya lebih realistis karena melibatkan nuansa kepercayaan dan kecintaan terhadap Sang Pencipta, dan sejalan dengan semangat spiritualisme yang semakin berkembang dan semakin banyak dianut di dunia Barat. Model ini akan menghindarkan eksploitasi yang berlebihan atau semena-mena terhadap sumberdaya alam dan ligkungan.
iii
Konsep Tatanan Sebagai Suatu Opsi
Untuk Memahami dan Menelaah Eksistensi Sumberdaya Air
Pengertian atau defnisi tatanan sebagai suatu wujud interkoneksitas (hubungan dan interaksi) antara mahluk hidup dengan lingkungannya, dan secara khusus antara manusia sebagai mahluk yang berperadaban dengan Al Haliq Sang Penciptanya mengisyaratkan perlunya pembangunan yang bersifat holistis, yang bebasis pada penguatan dan peningkatan kualitas hubungan berdasarkan potensi atau kompetensi yang dimiliki oleh setiap komponen tatanan.
Jalan fikiran atau cara pandang ini sesungguhnya bukanlah hal baru karena sejarah peradaban umat manusia telah menunjukkan di mana-mana bahwa setiap unsur memiliki potensi yang akan tumbuh menjadi kekuatan atau potensi yang lebih besar apabila berinteraksi dengan potensi lainnya.
Maka tidaklah mengherankan apabila dalam sejarah peradaban umat manusia, memandang sumberdaya air sebagai salah satu komponen yang memiliki roh, yang selalu dikaitkan dengan aspek etika dan moralitas. Dalam lintasan sejarah peradaban berbagai suku bangsa di tanah air, banyak sekali mitos atau kepercayaan yang mengaikatkan antara ketersediaan sumberdaya air dengan integritas: kejujuran, etika, dan moralitas masyarakat, dan terutama yang dimiliki oleh para pemimpinnya. Sampai dengan saat ini, di beberapa bahagian tanah air, masyarakat—terutama petani–sangat yakin bahwa ketersediaan air memiliki kaitan dengan kejujuran, etika, dan moralitas pemimpin. Karakteristik masyarakat yang seperti ini tidak berarti mengabaikan kemajuan teknologi, akan tetapi justru meyakini bahwa teknologi kemanfaatannya akan tergantung pada integritas masyarakat dan pemimpinnya. Dalam masyarakat yang memiliki peradaban seperti ini, yang dinilai tradisional justru merupakan penganut pemikiran tatanan atau entity, yang sesungguhnya telah digagas oleh penganut pemikiran ‘kuantum’ yang percaya bahwa bukanlah obyek yang menentukan, melainkan hubungan antara obyek itulah yang maha penting.
Substansi pemikiran tatanan adalah apa yang disebut dengan kemandirian <kemandirian lokal> yang secara semula-jadi dimiliki oleh setiap obyek, di mana aspek ‘diversity’ atau kemajemukan dan keanekaragaman dipandang bukan sebagai konstrain, akan tetapi sebaliknya adalah sebagai faktor ‘terberi’ <God Given Factor>yang merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk kepentingan tatanan secara bertahap.
Tatanan atau entity bermula dari kesadaran bahwa setiap komponen <termasuk sumberdaya air>—atau lebih konkretnya sesosok individu—pasti memiliki kompetensi atau kemampuan ‘semula-jadi’ <genuine capacity> yang dapat memberi impulse atau ‘kekuatan’ baru pada yang lainnya, dan sebaliknya juga memiliki kemampuan untuk menyerap impulse dari luar untuk meningkatkan dirinya. Oleh karena itu dalam pemikiran tatanan atau entity ini, ‘hubungan’ menjadi sangat penting. Keseluruhan tidak ditentukan oleh obyek yang membangunnya, akan tetapi pada hubungan yang berlangsung di dalam keseluruhan itu.
Seseorang akan menjadi sempurna dan meningkat kompetensinya apabila mampu membangun interaksi dengan orang lain. Tanan dimulai dari individu, tumbuh menjadi kelompok kecil, dan seterusnya menjadi sesuatu yang lebih besar, bahkan secara umum akan menjadi tatanan global yang memiliki ketergantungan satu dengan yang lainnya.
Sumberdaya air, sesungguhnya dari awal berkembangnya peradaban telah menunjukkan bagaimana interaksi yang harmonis antara manusia dengan sumberdaya ini dan menghasilkan harmoni yang lestari. Di salah satu daera di Daratan Cina <Naxi/Water Dong> yang sejak berabad-abad yang lalu telah memadu unsur-unsur teknologi, ilmu pengetahuan, dan aspek-aspek sosial spiritual sedemikian rupa, dan bahkan memperlakukan air sebagai mahluk hidup, sehingga Masyarakat Naxi sampai dengan saat ini seolah-olah berada di alam surgawi, tanpa ada kehawatiran sedikitpun seperti yang kita alami saat ini.
iv
Simpulan
Gagasan dan pemikiran penulis <Hafied A Gany> sesungguhnya sudah merupakan suatu keharusan baru di abad ‘kuantum’ ini. Manusia harus atau mutlah menganut cara pandang ‘sains baru’ termasuk di dalam menelaah sumberdaya air sebagai sesuatu obyek yang ternyata tidak berdiri sendiri. Ia memiliki keterkaitan yang tek terpisahkan dengan unsur-unsur lainnya, termasuk perilaku kehidupan manusia. Sepanjang kesadaran itu tidak dimiliki, maka suatu saat—cepat atau lambat—bahkan ada yang meramalkan bahwa setengah abad mendatang, akan timbul penyesalan yang berkepanjangan dari umat manusia <kalau masih sempat> apabila tidak mau menyesuaikan cara pandangnya dengan spirit baru, salah satunya adalah dalam menelaah, memahami, dan mengelolola sumberdaya air sebagaimana yang digagas oleh Hafied A.Gany dalam bukunya yang didiskusikan pada hari ini.
Terima kasih
Kampus Tamalanrea Unhas,
10 November 2006
* Naskah dalam format doc juga dapat didownload di link berikut -klik kanan > save target as- :
www.geocities.com/hafiedgany/bedah_buku_radi_blog.doc










